Aktifitas Membaca Masyarakat Indonesia Cukup Tinggi

Aktifitas Membaca Masyarakat Indonesia Cukup Tinggi

JAKARTA ( Merdeka News ) : Semangat membaca masyarakat Indonesia belum diimbangi dengan jumlah buku yang bisa diakses dan distribusinya. Ketersediaan buku yang belum memadai menunjukkan bahwa kondisi yang dialami Indonesia bukan rendahnya minat baca, melainkan kekurangan buku. Menurut standar yang ditetapkan Unesco, seharusnya ada tiga buku untuk satu orang penduduk.

Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI Joko Santoso menyatakan, pada tahun 2020, Perpusnas melakukan kajian aktivitas membaca masyarakat Indonesia. Hasilnya, mendapatkan angka yang cukup tinggi yakni rata-rata 9 jam 52 menit per pekan.

Sementara itu Penulis sekaligus pegiat literasi, Maman Suherman, sepakat dengan hal ini. Berdasarkan pengalamannya berkeliling Indonesia dan bertemu dengan banyak taman bacaan masyarakat dan pemustaka, dia menilai permasalahan yang ada bukan mengenai rendahnya minat baca, melainkan akses terhadap bahan bacaan.

Dalam sharing session Perpusnas Writers Festival 2021 yang diselenggarakan secara virtual, Selasa (15/06/2021) Maman berkisah pernah hampir tenggelam saat menaiki perahu Pustaka di Sulawesi Barat. Saat itu, ujarnya, bukan cuma dia yang diselamatkan tapi buku-buku pun ikut dijaring, kemudian disetrika setiap halamannya. Dia mengaku terenyuh, betapa bahan bacaan sangat dibutuhkan oleh masyarakat di daerah dan penyebarannya masih belum merata di seluruh Indonesia.

“Bagi mereka buku adalah berlian yang tidak boleh hilang dan harus sampai ke tujuan. Begitu sulitnya akses terhadap bahan bacaan menjadikan satu buku sangat berharga,”kata Maman.

Sementara itu, Bupati Magetan Suprawoto mengungkapkan akses terhadap bahan bacaan harus dipermudah. Adapun upaya yang sudah dilakukan di Magetan antara lain menempatkan perpustakaan di lokasi yang strategis dengan fasilitas yang menarik masyarakat untuk berkunjung.

“Di Magetan, perpustakaan ditempatkan di lokasi yang sangat strategis yaitu di samping alun-alun, dengan begitu masyarakat tentu antusias. Kemudian, supaya menarik di sana juga dipasang wi-fi kenceng,” ujar.

Menulis merupakan aktivitas yang dapat menembus ruang dan waktu. Dengan menulis, dia meyakini, individu akan dikenang selamanya. Melalui tulisan, Suprawoto juga berupaya melestarikan budaya. Sebagai keturunan Jawa, Suprawoto mempertahankan budayanya dengan membuat tulisan menggunakan bahasa jawa. “Kalau bahasa Jawa hilang, saya berdosa,” ucapnya.

Pada umumnya, penulis dihadapkan pada masalah penerbitan buku karena beberapa penerbit menerapkan standar tinggi pada kualitas penulisan dan nilai jual tulisan. Merespons hal ini, Asma Nadia berpesan bahwa seorang penulis harus bisa menulis hal yang membahagiakan hatinya. Penulis novel Surga yang Tak Dirindukan ini juga menyebut, penulis harus bisa menghadirkan hal yang diperlukan. Sehingga, setiap penulis akan berjuang dengan prinsip yang mereka jalani dalam hidup.

Asma mengutip pernyataan produser Manoj Punjabi bahwa kisah yang bagus atau menarik adalah kisah yang relate ke banyak orang. Dia menilai, kisah seperti itulah yang mampu menarik minat pembaca.

“Buku akan laku jika dibutuhkan. Jadi buat teman-teman yang tertarik ke penulisan, kalau kamu datang mencari sebuah buku ke toko buku dan kamu tidak menemukannya, maka jadilah yang menulisnya,” pesannya.

Jika melihat dari sisi hukum, Helitha Novianty menilai negara harus hadir dalam memberikan dukungannya kepada penulis. Menurut akademisi yang juga penulis ini, sudah menjadi tugas negara untuk mencerdaskan bangsa. Beberapa upaya yang bisa dilakukan di antaranya, menurunkan harga buku dan meningkatkan royalti penulis. Dengan demikian, profesi penulis dapat semakin dilirik untuk digeluti. (Kr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*