Category Archive : Ekonomi Bisnis

PPKM Darurat Dorong Pertumbuhan Transaksi Digital

JAKARTA ( Merdeka News ) : Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dinilai mampu mendorong pertumbuhan transaksi digital yang pada akhirnya juga turut mendukung upaya pemulihan ekonomi.

Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Izza Mafruhah. Ia menilai, penerapan PPKM Darurat pada 3-20 Juli 2021 berpotensi meningkatkan tren transaksi ekonomi digital di Indonesia.

“Pembatasan kegiatan masyarakat ini membuat masyarakat harus mengasah kreativitasnya dan mencari cara agar usahanya tidak berhenti, karena kondisi pandemi yang mengharuskan masyarakat untuk bertahan dan beradaptasi. Salah satunya dengan memanfaatkan telepon genggam seperti menjual usahanya melalui whatsapp maupun platform digital dan ojek online,” ujarnya dalam diskusi online melalui platform Instagram akun @perekonomian.maju yang bertajuk ‘Survivalitas Ekonomi Indonesia di Tengah PPKM Darurat’.

Izza mengatakan, untuk menggerakan perekonomian Indonesia, ada beberapa tahap yang harus dilewati oleh masyarakat. Pertama, tahap rescue, dimana bantuan ekonomi diberikan kepada masyarakat sebagai dampak pandemi.

Kemudian, kata Izza, tahap kedua yaitu stability yaitu masyarakat mampu beraktivitas seperti biasa dengan menerapkan protokol kesehatan.

Dan tahap ketiga, adalah recovery, tahap dimana masyarakat mulai berdamai dengan kondisi pandemi dan melakukan segala kegiatan dengan pola kebiasaan baru.

“Jadi tahap recovery ini terjadi pada akhir tahun 2020 dan awal tahun 2021, dimana aktivitas ekonomi sudah mulai pulih. Tetapi saat ini, kita kembali ke tahap rescue, dengan pembatasan ketat dan lonjakan kasus yang mencapai 56 ribu per hari yang diakibatkan masyarakat sudah mulai bosan dan melonggarkan protokol kesehatan,” ujarnya.

Namun demikian, Izza menyebutkan, kondisi masyarakat saat ini lebih siap dibandingkan pada awal pandemi. Salah satunya, sektor padat karya, seperti industri batik di Kota Solo masih bisa beroperasi dengan kreativitas yang dimiliki dari awal pandemi yaitu berbasis online.

“Jadi saya kira, meski sektor tourism seperti hotel, restoran bahkan transportasi terdampak. Namun, sektor e-commerce, delivery, logistik, telemedicine akan mengalami pertumbuhan meski diberlakukan PPKM Darurat. Karena banyak UMKM yang sudah banyak beradaptasi sejak awal pandemi,” jelas Izza. (Nng)

Maskapai Super Air Jet Segera Terbang Perdana

JAKARTA ( Merdeka News ) : Super Air Jet sedang mempersiapkan rencana untuk penerbangan perdana (inaugural flight) melayani penumpang berjadwal (regular flight), yang akan dijadwalkan segera. Kehadiran Super Air Jet optimis akan membawa era dan babak baru penerbangan dari Indonesia, menambah pengalaman baru dan paling seru ketika terbang, menciptakan konektivitas lebih baik dan sebagainya.


Direktur Utama atau Chief Executive Officer Super Air Jet Ari Azhari mengatakan berbagai hal dan langkah telah dilakukan agar penerbangan perdana mendatang berjalan sesuai jadwal dan memenuhi aspek standar operasional keselamatan, keamanan dan kenyamanan perjalanan udara. Terpenting lagi, operasional berjalan berdasarkan ketentuan protokol kesehatan yang ketat.


“Super Air Jet akan memulai layanan ke destinasi Super Favorit di Indonesia guna menjawab dan mengakomodir kebutuhan penerbangan bagi para kawula khususnya generasi kekinian terhadap perjalanan udara. Enam destinasi tersebut yaitu Jakarta, Palembang, Padang, Batam, Medan dan Pontianak,” tuturnya dalam surat elektronik yang diterima KR, Rabu (21/7/2021).


Ari menyampaikan Super Air Jet akan beroperasi dengan frekuensi terbang 1 kali setiap hari, yang dilayani pergi pulang (PP). Pemilihan destinasi Super Favorit di tahap perdana guna menjangkau wilayah Indonesia Barat dengan pilihan jadwal keberangkatan yang tepat di rute-rute Super Populer karena jaringan dan daerah tersebut sudah dikenal dan disukai orang banyak.


“Fokus utama Super Air Jet menawarkan konsep berbiaya rendah dengan penerbangan langsung antar kota secara point-to-point di pasar domestik dan nantinya dapat merambah ke rute-rute internasional,” tambahnya.
Super Air Jet sedang mempersiapkan untuk penerbangan perdana dengan rute-rute domestik yang dinilai sangat potensial, memiliki daya tarik keunggulan daerah, serta tren penerbangan kategori penumpang generasi masa kini. (Krj)

Telkomsel Salurkan Hewan Kurban Hingga Pelosok Negeri

JAKARTA ( Merdeka News ) : Menyambut Hari Raya Iduladha 1442 H/2021, Telkomsel sebagai leading digital telco company yang konsisten hadir di tiap fase kehidupan masyarakat, kembali menjalankan aksi berbagi manfaat melalui penyaluran hewan kurban bagi masyarakat yang membutuhkan.

Melalui program corporate social responsibility (CSR) yang pada tahun ini mengusung semangat #BukaPintuKebaikan, Telkomsel menyalurkan bantuan 906 ekor hewan kurban kepada sekira 56.200 penerima manfaat di sekira 800 lokasi hingga pelosok negeri. Penyerahan hewan kurban yang terdiri dari 129 ekor sapi dan 777 ekor kambing tersebut dilakukan secara simbolis oleh Telkomsel secara virtual dan dihadiri oleh perwakilan penerima manfaat dari seluruh Indonesia.

“Iduladha selalu menjadi momen yang tepat bagi Telkomsel untuk dapat kembali berkontribusi dalam memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia melalui penyaluran bantuan hewan kurban. Upaya ini merupakan wujud nyata dari komitmen Telkomsel yang ingin terus membuka pintu kebaikan dengan berbagi dan memberikan dukungan bagi setiap lapisan masyarakat di segala kondisi, termasuk di masa pandemi yang penuh tantangan saat ini. Pada momen Iduladha tahun ini, Telkomsel juga mengusung semangat gotong royong dengan menjalin kolaborasi bersama mitra-mitra strategis dalam menyediakan sekaligus mendistribusikan hewan kurban agar dapat membantu menjangkau lebih banyak penerima manfaat secara menyeluruh,” jelas Direktur Utama Telkomsel, Hendri Mulya Syam.

Mitra strategis yang menjadi bagian dari aksi kolaborasi bersama Telkomsel ini berasal dari ekosistem bisnis perusahaan, di antaranya komunitas kerohanian Islam Majelis Telkomsel Taqwa (MTT), lembaga sosial terpercaya, yayasan, platform crowdfunding seperti KitaBisa.com, hingga startup digital Ternaknesia yang merupakan salah satu peserta program NextDEV Telkomsel sebagai penghubung UMKM peternak lokal.

Aksi kolaboratif tersebut dilakukan bukan hanya untuk memperluas cakupan penyaluran hewan kurban secara konvensional maupun digital, melainkan sebagai bagian dari upaya Telkomsel dalam membantu menguatkan ekonomi digital masyarakat secara inklusif melalui pemberdayaan UMKM peternak lokal.

Hendri lebih lanjut menambahkan, sejumlah bantuan hewan kurban juga berasal dari sumbangan karyawan Telkomsel. Keseluruhan bantuan hewan kurban ditargetkan dapat didistribusikan ke sejumlah masjid, rumah sakit, pesantren, lembaga sosial, panti asuhan, yayasan, hingga pemukiman masyarakat yang berada di sekitar wilayah kantor dan infrastruktur operasional Telkomsel di berbagai pelosok negeri.

Di tengah kondisi yang menantang seperti saat ini, sangat penting bagi masyarakat Indonesia dan para pemangku kepentingan agar dapat saling bahu-membahu dan saling berbagi dalam menebarkan manfaat. Untuk itu, melalui kegiatan ini Telkomsel senantiasa mengaktualisasikan komitmennya yang selalu berusaha membuka berbagai kesempatan untuk saling berbagi serta menebarkan manfaat bagi setiap lapisan masyarakat di segala fase kehidupan.

“Kami berharap, bantuan yang diberikan ini dapat membawa keberkahan dan manfaat bagi masyarakat Indonesia yang memaknai Hari Raya Idul Adha dengan rasa syukur meski kita masih berada di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini. Melalui dukungan sosial ini, Telkomsel berharap dapat memberikan inspirasi dan memicu semangat bagi para penerima manfaat agar dapat bersama-sama bertahan dan berbagi untuk sesama. Bantuan ini pun diharapkan dapat meringankan tantangan ekonomi sosial yang dialami masyarakat di masa pandemi yang masih berlangsung saat ini. Ke depan, Telkomsel akan terus berkomitmen memperkuat upaya kolaboratif dengan para pemangku kepentingan untuk terus bergerak maju, menghadirkan semangat dalam memaksimalkan pemanfaatan teknologi sebagai salah satu upaya mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis digital dengan semangat gotong royong,” pungkas Hendri.(Nnm)

Kliring Berjangka Indonesia Bukukan Laba Bersih Rp 43,9 Miliar

JAKARTA ( Merdeka News ) : Ekonomi Indonesia belum sepenuhnya pulih dari tekanan pandemi covid-19. Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun telah menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester I 2021 berada di level 3,1 – 3,3 %.


Senada dengen Menteri Keuangan, Bank Indonesia juga melakukan revisi atas pertumbuhan ekomomi Indonesia semester I 2021, dari proyeksi awal pada rentang 4,1 & sampai dengan 5,1% dengan titik tengah di kisaran 4,6 %, direvisi menjadi 3,8 %.


Di tengah tekanan pandemi yang cukup berat ini, masih ada korporasi yang tetap bertahan bahkan tumbuh. Salah satunya adalah PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) atau KBI. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berperan sebagai Lembaga Kliring Penjaminan dan Penyelesaian Transaksi di Perdagangan Berjangka Komoditi dan Pasar Fisik Komoditas, serta sebagai Pusat Registrasi Resi Gudang ini tetap mencatatkan kinerja positif selama semester I tahun 2021.


Sepanjang semester I tahun 2021, KBI berhasil membukukan pendapatan operasional sebesar Rp 77,4 Miliar atau naik 6,27% dibandingkan di periode yang sama di tahun 2020 yaitu Rp 72,8 Miliar. Sedangkan dari sisi Laba, sampai dengan semester I tahun 2021 KBI telah membukukan laba Rp 43,9 Miliar, naik 40,6 % dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 yaitu sebesar Rp 31,2 Miliar.

Fajar Wibhiyadi, Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) mengatakan, “Tekanan pandemi yang telah berjalan sejak tahun lalu, mau tidak mau harus disikapi dengan baik. Pertumbuhan yang dibukukan di semester I ini merupakan hasil dari berbagai langkah strategis, baik dalam menjaga kinerja usaha seperti transformasi serta digitalisasi bisnis. Selain itu, tekanan pendemi ini juga kami sikapi dengan berbagai langkah efisiensi”


“Terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM Darurat) yang saat ini tengah diberlakukan, KBI juga menjalankan dengan melakukan WFH 100% bagi karyawan. Namun dengan otomasi yang telah dilakukan, kegiatan operasional KBI tetap bisa berjalan untuk para pemangku kepentingan. Kegiatan kliring tetap berjalan seperti biasa, termasuk dalam proses registrasi resi gudang.”, ungkap Fajar Wibhiyadi.


Fajar Wibhiyadi menambahkan, “Kami optimis trend positif di semester I 2021 ini akan berlanjut di semester II 2021. Kami mentargetkan laba tahun 2021 ini tumbuh 20%, dari laba tahun 2020 sebesar Rp. 66,4 Miliar menjadi 79,7 Miliar. Berbagai inisiasi bisnis tengah kami jalankan, salah satunya adalah peran KBI sebagai Lembaga Kliring Perdagangan Timah Dalam Negeri, yang sudah mulai berjalan beberapa waktu yang lalu.


Selanjutnya, di tahun 2021 ini, berbagai inisiasi bisnis baru juga tengah dalam persiapan, seperti peran KBI sebagai Lembaga Kliring Pasar Fisik Emas Digital serta Lembaga Kliring Berjangka di Perdagangan Aset Kripto. (Nnm)

BRIvolution 2.0, Transformasi BRI untuk Bertahan dan Terus Tumbuh di Masa Datang

JAKARTA ( Merdeka News ) : Ledakan pandemi saat ini di Indonesia, memberikan dampak perekonomian yang berbeda dibandingkan dengan krisis-krisis ekonomi yang pernah terjadi sebelumnya. Tahun 1998, Indonesia diterpa krisis multidimensi yang mempengaruhi pasar keuangan, ekonomi, sosial dan politik. Hal ini mengakibatkan rupiah melemah 540% dan banyak usaha korporasi melemah.


Direktur Utama BRI Sunarso menjelaskan, krisis ekonomi karena pandemi kali ini berbeda dengan masalah ekonomi pada 1998, 2008, atau 2013 lalu. Krisis ekonomi 1998 dipicu nilai tukar di Korea Selatan, masuk ke Asia Tenggara dan memukul Indonesia.


Pada 2008 krisis terjadi di Amerika Utara dan Eropa yang dipicu kegagalan korporasi di Amerika Serikat untuk membayar kewajibannya. Hal itu berpengaruh terhadap suku bunga, besaran inflasi dan nilai tukar. Adapun pada 2013 krisis dipicu kegagalan di Eropa yang berpengaruh juga pada inflasi, nilai tukar, suku bunga dan yang paling terdampak adalah korporasi. Pada 2020 krisis merata di seluruh dunia yang disebabkan pandemi. Non performing loan (NPL) naik terutama pada nasabah di segmen pelaku UMKM. Di sisi lain, UMKM adalah tulang punggung BRI.


Hal tersebut dijelaskan oleh Sunarso pada acara webinar CEO Talk yang mengambil tema “Cracking The Transformation Secret” (15/7/2021). Acara webinar CEO Talk yang diselanggarakan oleh Indonesia Finance Learning Institute tersebut merupakan langkah kolaborasi learning center dari BUMN sektor keuangan dibawah binaan Kementerian BUMN.


Sunarso mengatakan bahwa pada 2016 pihaknya sudah merancang strategi untuk menjaga pertumbuhan perseroan melalui konsep besar BRIvolution 1.0. Program tersebut diuji coba pada 2017 dan telah dilaksanakan sejak tahun 2018.


BRI menyadari bahwa pada saat ini rata rata umur perusahaan kelas dunia (S&P 500) menurun dari tahun ke tahun, dan pada tahun 2025 rata rata umur perusahaan hanya 12 – 15 tahun. Salah satu faktor utama pendorong perubahan yakni kecepatan perkembangan teknologi yang mengalahkan kecepatan perubahan individu manusia, organisasi bisnis dan pemerintahan.


“Oleh karenanya semua perusahaan, termasuk BRI harus waspada agar tidak masuk dalam tahap tahap kemunduran. Strateginya yakni dengan melakukan transformasi,” urai Sunarso. (Nng)

XL Axiata – BROL Mudahkan Nelayan Deteksi Lokasi Tuna

JAKARTA ( Merdeka News ) : Aplikasi Laut Nusantara semakin canggih dengan kemampuan untuk mendeteksi keberadaan ikan-ikan bernilai ekonomi tinggi. Fitur terbaru dalam aplikasi besutan PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) dan Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) – Pusat Riset Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia tersebut adalah pendeteksi keberadaan ikan Tuna Sirip Kuning, Tuna Sirip Biru, dan Albacore. Ketiganya adalah ikan bernilai ekonomi tinggi dan menjadi primadona di pasar dunia. Fitur baru ini sudah bisa dimanfaatkan para nelayan sejak Juli 2021.


“Kami memang terus berupaya meningkatkan fungsi dan manfaat dari aplikasi Laut Nusantara ini. Visi kami jelas, yaitu membantu para nelayan Indonesia untuk mampu produktif dan aman dalam bekerja sehingga akan meningkatkan kualitas hidup mereka. Apalagi, teman-teman dari BROL memiliki semua kompetensi yang dibutuhkan untuk memperkaya manfaat aplikasi ini, dengan data-data hasil riset yang melimpah, dan bisa diimplementasikan menjadi sarana digital yang mendukung masyarakat nelayan kecil di seluruh Indonesia. Secara bertahap akan terus bertambah fitur-fitur baru yang bisa meningkatkan kemampuan aplikasi Laut Nusantara,” kata Chief Corporate Affairs Officer XL Axiata, Marwan O Baasir.


Sementara itu, Kepala Pusat Riset Kelautan, Dr. I Nyoman Radiarta, M.Sc. menyampaikan bahwa keberadaan fitur baru pendeteksi ikan-ikan bernilai ekonomi tinggi merupakan terobosan dalam upaya meningkatkan pendapatan para nelayan dengan mengubah paradigma nelayan dari mencari ikan menjadi menangkap ikan.


Dalam aplikasi ini, informasi ditampilkan secara sederhana untuk membantu nelayan sehingga kegiatan penangkapan ikan dapat dilakukan secara efektif, efisien dan aman.


Peneliti BROL, Eko Susilo menjelaskan, cara kerja fitur pendeteksi ikan-ikan tersebut adalah dengan mendeteksi lokasi daerah penangkapan ikan berdasarkan kesesuaian kondisi laut, yang menurut berbagai penelitian sebagai area tempat ikan berkumpul. Kesesuaian tersebut didasarkan pada kriteria front suhu dan tingginya kesuburan perairan. Front suhu adalah daerah pertemuan antara massa air hangat dan dingin.


Sedangkan kesuburan perairan yang tinggi berasosiasi dengan tersedia makanan ikan, berupa plankton, yang melimpah. Kedua kriteria tersebut dianalisis menggunakan data citra satelit.


“Untuk pelikan tuna dan cakalang, dihasilkan melalui pendekatan kesesuaian habitat ikan. Kriteria kesesuaian habitat ikan tersebut dianalisis menggunakan pemodelan numerik dan pendekatan statistik non-linear. Yang jelas, lokasi-lokasi keberadaan ikan Tuna Sirip Kuning, Tuna Sirip Biru, dan Albacore ditampilkan secara sederhana sehingga bisa dengan mudah digunakan oleh nelayan, ” papar Eko.


Ikan Tuna Sirip Kuning, Tuna Sirip Biru, dan Albacore tersebut memang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dari data Pusat Informasi Pelabuhan Kementerian Kelautan dan Perikanan, harga Tuna Sirip Kuning di kisaran Rp 50.000/kg, Tuna Sirip Biru sekitar Rp. 100.000/kg, dan Albacore sekitar Rp 50.000/kg. Sampai tingkat konsumen, harga jual bisa mencapai hingga 3 kali lipatnya.


Sementara itu di pasar internasional, seekor tuna Bluefin harganya pernah menembus rekor dunia dengan harga Rp 25 miliar dengan bobot 276 kg.Sebelumnya, aplikasi Laut Nusantara telah memiliki fitur pendeteksi ikan bernilai ekonomi tinggi lainnya yaitu Lemuru Bali, Tuna Mata Besar, dan Cakalang. Ikan Tuna dan Ikan Cakalang punya nilai permintaan yang tinggi di Indonesia dan pasar Internasional.


Pada tahun 2017, Indonesia memasok lebih dari 16% produksi Tuna, Tongkol dan Cakalang dunia. Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan, selama triwulan I 2021 komoditas Tuna, Tongkol, dan Cakalang (CTC) menempati primadona kedua untuk ekspor dengan nilai 228,55 juta dollar AS atau 13,08 dari total nilai ekspor sektor perikanan. Hal ini menjadikan Tuna, Tongkol, dan Cakalang menjadi prioritas KKP. Sementara itu, Lemuru merupakan ikan khas/spesifik di selat Bali.


Sejauh ini sudah ada 55 ribu pengguna aktif aplikasi Laut Nusantara. Mayoritas pengguna merupakan masyarakat nelayan yang tersebar di seluruh Indonesia melalui sosialisasi yang diselenggarakan bersama Balai Riset dan Observasi Laut maupun instansi lainnya seperti BAKAMLA dan Pemerintah Daerah. Hingga saat ini ada lebih dari 5.000 nelayan yang telah menerima sosialisasi langsung.


Mereka kemudian menginformasikan penggunaan aplikasi ini kepada para sejawatnya. Hingga tahun 2020 lalu, XL Axiata dan BROL telah menjalin Kerjasama dengan sekitar 29 wilayah kabupaten/kota di berbagai provinsi untuk implementasi aplikasi Laut Nusantara. (Nng)

Bangkitkan Potensi Inovasi Mahasiswa, BRI Gelar Creation Scholarship

JAKARTA ( Merdeka News ) : Masa depan bangsa ditentukan dari kualitas generasi penerusnya, sehingga dunia pendidikan yang menjadi tempat mencetak generasi penerus bangsa perlu untuk terus didukung. Salah satunya yang dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama dalam meningkatkan taraf pendidikan masyarakat Indonesia, melalui program beasiswa ‘BRI Peduli – Creation (Creative In Action) Scholarship’.

BRI Peduli – Creation (Creative In Action) Scholarship merupakan bentuk apresiasi kepada mahasiswa yang memiliki inovasi, ide, terobosan baru yang kreatif dan unggul dengan apresiasi berupa bantuan uang saku selama pengembangan inovasi dan juga beasiswa untuk kuliah. Program ini ditujukan untuk memfasilitasi potensi yang dimiliki mahasiswa Indonesia. Potensi untuk mengkaji, mengembangkan dan menerapkan ilmu serta teknologi yang telah didapat atau telah dipelajari selama perkuliahan kepada masyarakat umum.

Bagi mahasiswa yang berminat, syarat untuk mengikuti program ini cukup mudah. Program ini menganut sistem kelompok, peserta program Creation (Creative In Action) Scholarship bisa diikuti mahasiswa Strata 1 (S1) yang tergabung dalam Tim. Dalam 1 tim bisa terdiri dari 3 peserta mahasiswa. Tim akan mengajukan inovasi, ide, terobosan baru yang kreatif yang disusun menjadi Proposal.

Terdapat beberapa persyaratan umum proposal inovasi, ide, terobosan baru yang kreatif, yang perlu diperhatikan. Pertama, inovasi, ide, terobosan baru yang kreatif dibatasi dan diutamakan yang memiliki nilai unggul, kekinian, dan mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Kedua, inovasi, ide, terobosan baru yang kreatif yang dapat mendukung pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Ketiga, inovasi, ide, terobosan baru yang kreatif yang telah teruji, dapat diaplikasikan dan diimplementasikan. Kategori dalam program ini dapat dipilih sesuai dengan minat para mahasiswa, diantaranya:

  1. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Technology Creation)

Kategori yang membahas tentang ilmu pengetahuan dan teknologi kekinian dan bermanfaat untuk pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, syarat khusus kategori ini adalah Teknologi/Program sedang dalam pengembangan, telah memiliki target utama/lokasi/masyarakat untuk diimplementasikan, dan telah memiliki tujuan penggunaan teknologi.

  1. Kewirausahaan (Entrepreneur Creation)

Kategori ini bertujuan untuk menjaring keterampilan bisnis mahasiswa yang bertujuan pada profit untuk sosial dan ekonomi, syarat khusus kategori ini yakni termasuk dalam usaha Mikro dan Kecil, telah berjalan selama 1 Bulan, dan telah memiliki omset/pendapatan.

  1. Pengabdian Masyarakat (Social Creation)

Kategori ini bertujuan untuk mendapatkan penerapan kegiatan/proyek yang memberikan solusi yang tepat pada kelompok/komunitas/masyarakat, kegiatan/proyek adalah solusi yang tepat bagi persoalan di masyarakat luas. Syarat khusus kategori ini yakni telah memiliki target utama/lokasi/kelompok/komunitas/masyarakat untuk diimplementasikan, dan sudah berjalan selama 1-3 Bulan.

Di tahun pertama, mahasiswa yang dapat mengikuti program Creation (Creative In Action) Scholarship adalah yang berasal dari Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjajaran, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Brawijaya.

Tentu buah inovasi para mahasiswa akan mendapat apresiasi. BRI akan menetapkan peserta yang terpilih berhak mendapatkan apresiasi untuk menjalankan Inovasi Program senilai Rp 30 juta bagi masing-masing tim.

Kemudian, beasiswa untuk menjalani kuliah di masing-masing Universitas dengan maksimal anggaran setiap mahasiswa mendapatkan bantuan dana pendidikan kuliah sebesar Rp 8 juta per mahasiswa maksimal sampai dengan semester 8.

Tidak hanya itu, setiap mahasiswa mendapatkan bantuan biaya sebesar Rp 500 ribu per orang maksimal sampai dengan 42 Bulan. Selain itu juga akan ada, annual gathering SuperCamp yaitu pelatihan softskill dan kepemimpinan bagi mahasiswa terpilih.

Penawaran menarik ini dapat digunakan oleh para mahasiswa Indonesia untuk mengembangkan diri dan menerapkan ilmu yang didapat sekaligus memperoleh reward. Para mahasiswa dapat mulai melakukan pendaftaran yang dibuka mulai 19 Juli hingga 31 Agustus 2021 dengan mengakses tautan bri.co.id/bripedulicreation. (Tnp)

Kerjasama Pemerintah dan Swasta Dorong Pertumbuhan Ekonomi

JAKARTA ( Merdeka News ) : Hingga hari ini, pandemi Covid-19 masih melanda seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Perkembangan pandemi Covid-19 di skala global penuh dengan dinamika.

Pada awal tahun 2021, tingkat penularan dan kematian harian secara global telah menunjukkan tren penurunan. Namun, memasuki akhir Juni 2021 kembali menunjukkan peningkatan, dan ditambah dengan adanya kekhawatiran varian baru Covid-19 dengan tingkat penularan yang lebih cepat, bahkan pada sejumlah negara kembali dilakukan pengetatan termasuk di Indonesia.

Pemerintah terus berupaya memitigasi dampak pandemi guna menjaga momentum pemulihan kesehatan dan ekonomi, khususnya untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam melakukan konsumsi dan investasi melalui beberapa strategi. Di antaranya adalah PPKM Mikro yang dilonggarkan atau diperketat berdasarkan perkembangan situasi pandemi dan akselerasi vaksinasi untuk mencapai herd immunity dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.

“Saya berharap Institut Teknologi Indonesia (ITI)-PII bisa membantu pemerintah untuk membuat central vaksin di kampus ITI yang sekarang tidak digunakan untuk mahasiswa kegiatan belajar,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam memberikan keynote speech pada talkshow ITI-PII Young Innovation Award secara virtual.

Pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak lagi hanya bertumpu pada faktor produksi konvensional seperti penambahan kapital dan tenaga kerja, melainkan juga dipengaruhi oleh kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Faktor ini akan mendorong suatu negara untuk secara lebih efisien menyediakan barang dan jasa serta meningkatkan daya saing usaha. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, perhatian harus diberikan pada strategi kebijakan yang mendorong inovasi, termasuk penempatan anggaran negara untuk dialokasikan pada pos Iptek, riset, dan inovasi.

Penempatan anggaran riset/Litbang atau Gross Expenditure on Research and Development (GERD) dinyatakan dalam persentase terhadap PDB nasional, meliputi empat sektor yakni Litbang Pemerintah, Litbang Perguruan Tinggi, Litbang Industri, dan Litbang Non-Government Organization (NGO), dengan kegiatan riset mencakup penelitian dasar, penelitian terapan, dan pengembangan eksperimental. Dibandingkan dengan negara-negara di dunia, nilai GERD Indonesia masih terbilang rendah, yang berarti porsi penempatan anggaran untuk pos Iptek, riset dan inovasi masih perlu ditingkatkan.

“Untuk mendorong peran industri lebih besar dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan vokasi di Indonesia, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Super Tax Deduction Vokasi hingga 200%,” ujar Menko Airlangga.

Tautan antara pembangunan Iptek dengan pembangunan ekonomi terjadi ketika teknologi yang dihasilkan dapat mendukung dalam kegiatan ekonomi. Sebaliknya, kemajuan perekonomian dan peningkatan persaingan juga akan menciptakan kebutuhan teknologi baru. Agar “simbiosis mutualisme” antara pembangunan Iptek dengan pembangunan ekonomi dapat terbentuk, maka pengembangan teknologi perlu berorientasi pada kebutuhan atau persoalan nyata (demand-driven).

Pemerintah bekerja sama dengan swasta membantu seluruh pihak termasuk usaha mikro kecil untuk on boarding dan melakukan servisifikasi, melalui kegiatan peningkatan SDM Digital, pembuatan Database Digital, Literasi Digital, dan Pembangunan Infrastruktur Digital. Upaya-upaya tersebut akan mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan ekspor. Indonesia akan dapat keluar dari middle income trap lebih cepat yaitu pada tahun 2037.

“Saya mengucapkan selamat mengikuti acara ITI – PII Young Innovation Award dan berharap kepada seluruh peserta dapat memberikan kontribusi untuk turut menciptakan iklim inovasi yang maju dan bermanfaat untuk pemulihan ekonomi Indonesia. Hal ini juga saya sangat mengapresiasi peran ITI dan PII dalam menumbuhkan kecintaan terhadap teknologi, dan menciptakan iklim inovasi melalui pemberian penghargaan produk inovasi kepada generasi muda,” pungkasnya.

Turut hadir dalam talkshow tersebut, Kepala Badan Riset & Inovasi Nasional Dr. Laksana Tri Handoko, MSc. , Komisaris PT. Telekomunikasi Indonesia Prof. Bambang Sumantri Brodjonegoro SE, MUP, Ph.D , Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia Dr. Ir. Heru Dewanto, IPU. , Rektor Institut Teknologi Indonesia Dr. Ir. Marzan Aziz Iskandar, IPU. (Tnp)

Saat Pandemi, Ekspor dan Impor Bulan Juni Meningkat

JAKARTA ( Merdeka News ) : Ekspor dan impor Indonesia pada Juni 2021 mengalami peningkatan, baik secara bulanan (mtm) maupun tahunan (yoy). Peningkatan ekspor dan impor tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi di Indonesia terus pulih. Meski di tengah pandemi Covid-19, performa Neraca Perdagangan Indonesia masih cukup impresif.

Surplus Neraca Perdagangan telah dialami selama 14 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, termasuk pada Juni 2021 yang surplus US$1,32 miliar. Secara historis, surplus pada 2020 bahkan mencapai rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir dengan mencatatkan nilai sebesar US$21,62 miliar. Lebih jauh, angka ini juga telah mendekati rata-rata performa surplus pada peak periode 2001-2011 dengan nilai sebesar US$26,16 miliar, sebelum akhirnya Indonesia lebih sering defisit sejak 2012.

Surplus tersebut khususnya ditopang oleh beberapa komoditas nonmigas andalan Indonesia yaitu lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72). Namun, surplus neraca perdagangan ditekan oleh beberapa komoditas yang mengalami defisit, utamanya berasal dari reaktor nuklir, ketel, mesin dan peralatan mekanis (HS 84), mesin dan perlengkapan elektris serta bagiannya (HS 85), serta plastik dan barang daripadanya (HS 39).

“Performa Neraca Perdagangan yang cukup resilience di tengah pandemi tersebut perlu diapresiasi. Namun, untuk menjaga keberlanjutan surplus perdagangan ke depan, perlu terus dicermati beberapa faktor kunci,” ungkap Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, di Jakarta.

Faktor kunci tersebut di antaranya, stabilitas pertumbuhan permintaan global khususnya pada pasar utama; peran dan fungsi perwakilan perdagangan (Perwadag) dalam mendorong peningkatan ekspor; dinamika perkembangan harga dan volume ekspor komoditas utama dan potensial; dan strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan pertumbuhan impor khususnya pada komponen impor konsumsi.

Nilai Ekspor-Impor Terjaga di Juni 2021

Berdasarkan data BPS (15 Juli 2021), nilai ekspor tercatat US$18,55 miliar dan impor US$17,23 miliar. Nilai ekspor di Juni 2021 ini mencatatkan rekor tertinggi sejak Agustus 2011, sedangkan nilai impor merupakan tertinggi sejak Oktober 2018.

Jumlah ekspor tersebut meningkat 54,46% secara tahunan (yoy) yaitu dari US$12,01 miliar di Juni 2020 menjadi US$18,55 miliar di Juni 2021, sedangkan impor naik 60,12% dari US$10,76 miliar di Juni 2020 menjadi US$17,23 miliar di Juni 2021. Lebih lanjut, ekspor Indonesia ini memiliki performa yang lebih baik dibandingkan negara-negara Asia lainnya, seperti Korea Selatan (39,8% yoy), Taiwan (25,6% yoy), dan Vietnam (20,4% yoy).

Ekspor nonmigas berkontribusi 93,32% atau US$17,31 miliar dari dari total ekspor di Juni 2021, terdiri atas ekspor industri (75,91%), tambang (15,70%), dan pertanian (1,75%); sementara ekspor migas menyumbang 6,64% saja atau US$1,23 miliar.

Peningkatan ekspor juga dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas global. Beberapa komoditas global yang mengalami peningkatan harga antara lain batu bara (Australia) meningkat sebesar 148,94% (yoy) dan CPO meningkat sebesar 54,99% (yoy). Kenaikan harga di kedua komoditas ekspor utama Indonesia ini telah berkontribusi terhadap peningkatan kinerja ekspor di Juni 2021.

Sementara, nilai impor Juni 2021 sebesar US$17,23 miliar terdiri dari impor migas senilai US$2,30 miliar dan nonmigas sebesar US$14,93 miliar. Secara penggunaan barang, dibandingkan bulan sebelumnya, nilai impor seluruh golongan penggunaan barang selama Juni 2021 mengalami peningkatan.

Peningkatan terbesar menurut penggunaan barang terjadi pada golongan barang modal yang meningkat sebesar 35,02% secara bulanan (mtm), diikuti bahan baku/penolong sebesar 19,15% (mtm), dan barang konsumsi sebesar 16,92% (mtm).

“Peningkatan impor bahan baku/penolong mencerminkan peningkatan kinerja sektor riil, sementara peningkatan barang modal juga cukup baik karena berdampak pada peningkatan kapasitas produksi,” ujar Menko Airlangga.

Capaian kinerja Neraca Perdagangan juga dipengaruhi oleh perkembangan aktivitas manufaktur negara mitra dagang utama, terutama Amerika Serikat dan Tiongkok. Indeks PMI Manufaktur di kedua negara tersebut masih berada di level ekspansif, yakni 62,1 (AS) dan 51,3 (Tiongkok). Masih tingginya permintaan global telah mendorong aktivitas produksi dalam negeri untuk memenuhi hal itu, sehingga indeks PMI Manufaktur Indonesia berada di level 53,5 dan kinerja ekspor Indonesia meningkat di Juni 2021.

“Secara garis besar, pada Juni 2021, Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan nonmigas dengan beberapa negara, yakni Amerika Serikat (US$1,34 miliar), Filipina (US$0,65 miliar), dan Malaysia (US$0,32miliar). Sementara, Indonesia mengalami defisit dengan Tiongkok (US$ -0,60 miliar), Australia (US$ -0,48miliar), dan Thailand (US$ -0,33 miliar),” pungkas Menko Airlangga. (Tnp)

BRI Bangkitkan Pelaku UMKM

JAKARTA ( Merdeka News ) : BRI terus berupaya mendorong pemulihan kondisi ekonomi dalam negeri yang terdampak pandemi Covid-19, khususnya dalam usaha penyelamatan sektor UMKM yang juga ikut terpukul oleh krisis multi dimensional tersebut.

Direktur Bisnis Kecil dan Menengah BRI Amam Sukriyanto dalam seminar daring Economic Outlook yang diselenggarakan Harian Ekonomi Bisnis Indonesia, Selasa (6/6), mengatakan bahwa sektor UMKM saat ini berkontribusi terhadap lebih dari 60% perekonomian Indonesia. Bahkan 99% usaha yang ada di Tanah Air saat ini, masuk dalam kategori UMKM.

Dengan porsi yang sangat besar tersebut, 97% dari jumlah pekerja di Indonesia bekerja di sektor UMKM. Di sisi lain, Amam menjelaskan bahwa sektor UMKM sangat rentan terdampak pandemi atau terimbas negatif dari penerapan kebijakan penanganannya seperti “diam di rumah” atau pembatasan sosial berskala besar.

Dari data BRI, lebih dari 45% UMKM sulit mendapatkan bahan baku dan bahan dasar industri. Sekitar 90% dari UMKM dihadapkan pada kenyataan bahwa permintaan pasar terhadap produknya menurun. Sekitar 70% UMKM menerima pendapatan rendah dan 53% nya mengalami penurunan nilai aset.

“Untuk membuat ekonomi Indonesia selamat, maka UMKM-lah yang harus diselamatkan. Ini upaya stakeholders untuk betul-betul bisa menyelamatkan UMKM,” terang Amam.

Oleh karena itu, BRI senantiasa mengajak semua pihak dalam upaya penyelamatan UMKM dan tak terlepas dari peran semua pemangku kebijakan pemerintah. Amam menilai bahwa pemerintah berhasil mempertahankan daya beli masyarakat yang membuat permintaan terhadap barang dan jasa tetap tinggi, sehingga ekonomi terus berputar dan perbankan bisa masuk menjalankan fungsinya.

Hal itu direspon positif oleh BRI yang konsisten menjalankan strategi business follow stimulus sebelum dan di masa pandemi. BRI mendorong semua stimulus Pemerintah disalurkan dengan cepat, sehingga hal tersebut dapat menumbuhkan dan mempercepat pemulihan perekonomian.

Dia menggarisbawahi peran-peran para pemangku kebijakan yang mampu mengerem laju penurunan perekonomian tersebut. Bank Indonesia yang melakukan pelonggaran kuantitatif. Otoritas Jasa Keuangan yang menyokong dengan tiga ketentuan bermanfaat bagi perbankan salah satunya relaksasi restrukturisasi kredit terdampak Covid-19.

“Ini sangat besar pengaruhnya karena bisa menahan risiko pemburukan kredit UMKM yang berjumlah besar,” jelasnya. (Tnp)