Category Archive : Pendidikan

1.000 Orang Dosen dan Karyawan Ikut Vaksinasi

YOGYAKARTA ( Merdeka News ) : Sebanyak 1.000 orang tenaga dosen dan karyawan perguruan tinggi swasta (PTS) di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengikuti vaksinasi COVID-19 yang dipusatkan di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Selasa.

Sebagaimana dilansir Antara, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyempatkan untuk memantau pelaksanaan vaksinasi COVID-19 tersebut.

Danang menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan upaya pemerintah dalam mempercepat vaksinasi COVID-19 di sektor pendidikan.

“Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan untuk membantu mempercepat proses belajar mengajar secara tatap muka, mengingat dunia pendidikan menjadi salah satu prioritas utama pelaksanaan program vaksin,” katanya.

Ia berharap vaksinasi COVID-19 ini bisa segera dilakukan di beberapa perguruan tinggi lainnya di Kabupaten Sleman.

“Saya berharap pelaksanaan vaksinasi COVID-19 dapat berjalan dengan lancar, dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat, terutama di bidang pendidikan, sehingga pembelajaran tatap muka dapat segera dilakukan,” katanya.

Vaksinasi COVID-19 bagi tenaga pendidik PTS di Sleman ini menyasar enam kampus swasta, yakni Universitas Amikom, YKPN, UPN, STIE SBI, STIKES Guna Bangsa, STIE Megar Kencana dan STIE Nusa. (Ant)

Pergunu Berupaya Tingkatkan Kompetensi Para Guru NU

PURWOREJO ( Merdeka News ) : Persatuan Guru Nahdatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Purworejo berencana menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi Islam berkualitas. Kerja sama dilakukan untuk meningkatkan kompetensi tenaga pendidik dari kalangan NU yang tergabung dalam organisasi Pergunu.

Sekolah Tinggi Agama Islam An Nawawi (STAIAN) Berjan menjadi sasaran utama kerja sama tersebut. “Tugas kami adalah meng-upgrade program dari pusat dan provinsi di daerah, salah satunya kerja sama dengan pendidikan tinggi. Secara khusus kami belum berkomunikasi dengan STAIAN, tapi keinginan itu akan kami tuangkan dalam program kerja organisasi,” ujar Ketua PC Pergunu Kabupaten Purworejo Agus Muzammil, seperti dilansir KRJOGJA.com, kemarin.

Dikatakannya, bentuk kerja sama yang mungkin bisa ditempuh antara lain fasilitasi terhadap tenaga pendidik dan kependidikan yang belum lulus jenjang sarjana. Selain itu, Pergunu berharap dapat bekerja sama menyelenggarkan berbagai program pelatihan dan seminar.

Kemudian timbal baliknya, tambah Agus Muzammil, Pergunu akan mensosialisasikan berbagai program yang ada di perguruan tinggi tersebut kepada para siswa yang notabene sebagai calon mahasiswa.

Di samping itu, Pergunu juga akan bersinergi dengan lembaga pendidikan negeri dan swasta di luar lingkup NU. Sebab, lanjut Agus, anggota Pergunu tidak semuanya bekerja di lembaga pendidikan milik NU. “Pergunu tidak hanya untuk guru Maarif saja, tapi termasuk semua guru yang Ahlusunnah wal jamaah. Mereka juga banyak yang bernaung di lembaga negeri dan swasta lainnya, maka kami akan kulonuwun ke sana,” terangnya.

Agus menuturkan langkah awal kepengurusan periode 2019 – 2024 yang baru dilantik Minggu (18/4) itu adalah membentuk pengurus tingkat ranting dan komisariat. Organisasi juga akan terus mensosialisasikan Pergunu kepada masyarakat pendidikan di Purworejo.

Sementara itu Ketua Pergunu Jateng HM Faojin MAg MPd mengemukakan, kerja sama lintas perguruan tinggi bermakna penting untuk peningkatan kompetensi guru. Menurutnya, sudah banyak perguruan tinggi di Jawa Tengah yang bekerja sama dengan Pergunu dan berhasil mewadahi upaya peningkatan kapasitas guru dan tenaga kependidikan NU itu. “Tidak hanya itu, Pergunu juga siapkan 3.103 beasiswa untuk peningkatan kompetensi pendidik NU,” tambah HM Faojin MAg MPd. (Krj)

Proses Seleksi Buku Pelajaran Sangat Ketat

JAKARTA ( Merdeka News ) : Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan bahwa seleksi dan proses penerbitan buku pelajaran yang akan menjadi acuan jutaan anak didik di Indonesia sangat ketat. Seluruh buku yang beredar telah melewati proses panjang dan detail

Maman Fathurrahman, Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud, menjelaskan buku yang masuk dalam satuan pendidikan harus melewati penilaian kelayakan sesuai prosedur baku yang telah berlaku. “Sudah ada undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur. Jadi, yang pertama jelas ada sebuah prosedur bahwa buku tersebut dinilai layak atau tidak,” ungkap Maman kepada wartawan, kemarin.

Maman menambahkan, buku yang beredar di satuan pendidikan, termasuk yang akan dibeli menggunakan dana bantuan operasional sekolah (BOS) harus sudah dinilai dan dinyatakan layak oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan.

Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2016, buku yang digunakan tidak mengandung unsur pornografi, paham ekstremisme, radikalisme, kekerasan, SARA, gender, dan tidak mengandung nilai penyimpangan lainnya.

Ia pun menegaskan Kemendikbud terus melakukan pembinaan pelaku perbukuan seperti penerbit, penulis, hingga editor untuk mengurangi ketidaktepatan yang pernah terjadi agar tidak terulang kembali. Setiap tahun, atau sebulan sekali bahkan sebulan dua kali di tahun 2021 pusat kurikulum dan perbukuan melibatkan masyarakat untuk merekrut para penilai yang memiliki kapasitas, kesanggupan, dan memenuhi syarat untuk melakukan penilaian kelayakan buku teks atau non-teks yang akan digunakan satuan pendidikan.

Hal senada disampaikan Doni Koesoema, Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Menurutnya, buku dengan jenis apapun, khususnya yang akan dipelajari seluruh anak Indonesia harus memperhatikan berbagai macam dimensi. Selain tampilan, cetakan, keterbacaan, kebenaran isi, kemudian juga ideologi yang memungkinkan untuk jadi bermasalah. (Ngh)

Hadapi Pandemi Mahasiswa Perlu Konselor Sebaya

MALANG ( Merdeka News ) : Kondisi pandemi yang telah berlangsung dalam setahun ini, menimbulkan berbagai persoalan yang dihadapi mahasiswa. Tidak hanya mahasiswa S1, mahasiswa paskasarjanapun riskan mengalami masalah. Stres akademikpun potensial dialami oleh mahasiswa, dalam pembelajaran daring selama masa pandemic covid 19. Dalam kondisi demikian para mahasiswa tersebut memerlukan kehadiran Konselor Sebaya.


Demikian ditegaskan oleh Drs. I Wayan Dasna, M.Si.,M.Ed.,Ph.D, Ketua LP3 (Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran) Universitas Negeri Malang (UM), saat membuka Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Konseling bagi anggota PCC (Peer Counseling Corner ), Senin, 12 April 2021 secara Daring Sinkronus. PCC yakni merupakan mahasiswa yang jadi fasilitator atau penghubung antara calon konseli dengan dosen konselor. Para mahasiswa yang jadi PCC ini juga sering disebut Konselor Sebaya.

Menurut I Wayan Dasna, Ph.D stres akademik berpotensi dialami mahasiswa saat pandemi, disebabkan oleh tugas kuliah yang demikian banyak, harus belajar secara mandiri, tidak bisa bertanya secara leluasa ketika menemui kesulitan dalam belajar dan lain sebagainya. Mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi juga demikian. Mereka galau karena belum juga disetujui oleh dosen pembimbingnya.


Dalam kondisi inilah, lanjut I Wayan Dasna, bantuan dari teman sebagai konselor sebaya sangat diperlukan dalam mengatasi permasalahan yang dialami mahasiswa. Konselor sebaya sebagai teman, dapat mengenali lebih awal temannya yang menunjukkan adanya gejala bermasalah. Sebab teman sebaya, biasanya hubungannya lebih dekat dibandingkan dengan dosen ataupun konselor. Di samping itu, hubungan kedekatan ini juga mendukung adanya kepercayaan dan keterbukaan. Permasalahan yang dialami bisa disampaikan secara leluasa ke konselor sebaya, sehingga bisa segera ditemukan solusinya.


“Saya bangga dengan anggota Peer Counseling Corner, sebagai konselor sebaya. Anda merupakan seseorang yang bisa mengisi kehidupan ini dengan penuh manfaat, sebab bisa membantu orang lain. Anda mempunyai kemampuan, mempunyai ilmu untuk menolong orang lain” tambah Drs. I Wayan Dasna, M.Si.,M.Ed.,Ph.D.

Kegiatan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Konseling bagi anggota PCC ini diselenggarakan oleh P2BK3A (Pusat Pengembangan Bimbingan Konseling Karier dan Kompetensi Akademik), LP3 UM. Pelatihan diikuti para mahasiswa anggota PCC dari 8 fakultas di Universitas Negeri Malang, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Sastra, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Sosial, serta Fakultas Pendidikan Psikologi.

Menurut Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd, Kepala P2BK3A, LP3 UM, Pelatihan kali ini merupakan pelatihan tingkat lanjut bagi anggota PCC. Sebelumnya, mereka sudah mendapatkan pelatihan dasar sebagai konseor sebaya. Kegiatan ini merupakan salah satu program P2BK3A yang dilaksanakan secara rutin pada setiap tahunnya, sebagai pembekalan bagi paa konselor sebaya. Pelatihan dilaksanakan secara asinkronus melalui SIPEJAR dan sinkronus melalui zoom meeting.


Materi pelatihan disampaikan oleh para Dosen Konselor P2BK3A yang telah berpengalaman di bidang konseling, yaitu Aji Bagus Priyambodo, S.Psi., M.Psi, Dr Diniy Hidayatur Rohman,M.Pd, Widya Multisari,S.Pd.,M.Pd dan Devy Probowati,S.Pd.,M.Pd. Keterampilan dasar komunikasi konseling, yang dilatihkan di anataranya keterampilan attending, openening, paraphrase, refleksi perasaan, structuring, konfrontasi, hingga keterampilan summary dan terminasi. (MZ )

Prof. Nur Hidayah: Ingin Sukses, Jadilah Pendengar Yang Baik

MALANG ( Merdeka News ) : Para profesional helper baik dia seorang guru, psikolog, dokter, psikiater, konselor, dan para profesional lain harusnya memiliki kompetensi dasar dalam hal memberikan bantuan. Salah satu keterampilan yang harus dimiliki yakni kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.


Demikian dituturkan Prof. Dr. Nur Hidayah, M.Pd, Guru Besar Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Nenegri Malang (UM), ketika tampil sebagai narasumber pada Pelatihan Peningkatan kompetensi tim pengembang P2BK3A, LP3 UM, kemarin.
Kegiatan Pelatihan ini diselenggarakan oleh P2BK3A (Pusat Pengembangan Bimbingan Konseling Karier dan Kompetensi Akademik), LP3 (Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran) Universitas Negeri Malang. Pelatihan diikuti para Tim Pengembang dari semua Fakultas di lingkungan Universitas Negeri Malang.


Menurut Prof. Nur Hidayah, salah satu kunci sukses berkomunikasi dengan orang lain yakni mampu menjadi pendengar yang baik. Cara paling dasar dan ampuh untuk berinteraksi dengan orang lain adalah dengan mendengarkan. Dengarkan saja, mungkin hal terpenting yang pernah diberikan satu sama lain adalah perhatian. Jika ada satu keterampilan komunikasi yang harus dikuasai, maka dengarkanlah.


“Mendengarkan secara efektif adalah keterampilan yang menopang semua hubungan positif manusia. Mendengarkan tidak sama dengan mendengar. Mendengar mengacu pada suara yang masuk ke telinga. Mendengar adalah proses fisik yang asalkan tidak memiliki masalah pendengaran, terjadi secara otomatis. Adapun mendengarkan, membutuhkan lebih dari moda itu yakni membutuhkan fokus dan usaha yang terkonsentrasi, baik mental maupun fisik,” tegas Prof Nur Hidayah yang juga Korprodi Bimbingan dan Konseling Program S-2 dan S-3 Universitas Negeri Malang.


Dijelaskan, banyak manfaat keterampilan mendengarkan. Antara lain jumlah teman dan jaringan sosial menjadi lebih banyak, harga diri dan kepercayaan diri meningkat, nilai menjadi lebih tinggi di sekolah dan dalam pekerjaan, dan bahkan kesehatan dan kesejahteraan umum menjadi lebih baik. Selain itu hasil penelitian telah menunjukkan bahwa, meskipun berbicara dapat meningkatkan tekanan darah, sebaliknya mendengarkan dengan penuh perhatian dapat menurunkannya.


Prof Nur Hidayah lantas memaparkan ada sejumlah cara untuk meningkatkan keterampilan mendengarkan, agar komunikasi menjadi lebih baik. Pertama yakni tunjukkan keterampilan mendengarkan Anda dengan parafrase. Parafrase dan meringkas adalah keterampilan komunikasi yang luar biasa yang membantu Anda memahami poin pembicara dan juga memungkinkan Anda untuk menunjukkan bahwa Anda mendengarkan dengan cermat.


Cara lain yakni lakukan kontak mata yang konsisten. Mempelajari cara mendengarkan tidak hanya tentang apa yang Anda katakan kepada orang lain. Bahasa tubuh juga memiliki peran utama. Pastikan juga untuk menyesuaikan kontak mata Anda dengan kebutuhan orang lain. Jika Anda berurusan dengan seseorang yang cemas, kurangi tatapan langsung dan fokuslah pada keterampilan mendengarkan aktif lainnya yang tidak terlalu bertentangan dengan orang yang pemalu.

Cara berikutnya yakni mengadopsi postur terbuka. Alat lain dalam rangkaian keterampilan mendengarkan dengan penuh perhatian melibatkan memperhatikan cara Anda berdiri atau duduk. Ajukan juga pertanyaan terbuka yakni pertanyaan yang dirancang untuk mendorong respons yang lebih lama dan lebih bijaksana. Pertanyaan terbuka menunjukkan keinginan Anda untuk terlibat dalam diskusi yang tepat dan minat Anda untuk memahami pola pikir pembicara.

Manfaatkan setiap kesempatan yang Anda bisa untuk menambahkan komentar yang membuktikan bahwa Anda telah mendengarkan dan mengingat sesuatu dari percakapan sebelumnya. Ini membuat orang merasa dihargai dan membuktikan bahwa Anda benar-benar memperhatikan.

“Agar mudah sukses dalam berkomunikasi dengan orang lain, maka tunjukkan anda pendengar yang baik dengan mengangguk. Komunikasikan mendengarkan secara aktif dengan mirroring. Gunakan bahasa tubuh untuk mencerminkan postur tubuh lawan bicara Anda. Ini adalah keterampilan interpersonal yang sangat baik yang bekerja di tingkat bawah sadar untuk meyakinkan lawan bicara Anda bahwa Anda berempati dengan mereka. Cobalah trik mirroring kecil, seperti menyilangkan kaki Anda searah dengan orang lain atau melipat tangan Anda dengan cara yang sama,” lanjut Prof. Dr. Nur Hidayah, M.Pd. (Zen)

Strategi Cerdas Mengatasi Prokrastinasi

MALANG ( Merdeka News ) : Para mahasiswa seringkali dihinggapi “prokrastinasi” yang menjadi penghambat dalam belajar. Prokrastinasi merupakan perilaku menunda-nunda dengan sengaja yang dilakukan secara berulang-ulang, dalam menyesaikan tugas akademik atau dalam belajar menghädapi ujian.


Demikian dituturkan Dr. Arbin Janu Setyowati,M.Pd, Sekretaris Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Nenegri Malang (UM), ketika tampil sebagai narasumber pada Pelatihan Keterampilan Belajar Bagi Mahasiswa UM, kemarin.


Kegiatan Pelatihan Keterampilan Belajar Bagi Mahasiswa UM ini diselenggarakan oleh P2BK3A (Pusat Pengembangan Bimbingan Konseling Karier dan Kompetensi Akademik), LP3 UM. Pelatihan diikuti para mahasiswa dari 8 fakultas di UM, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Sastra, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Sosial, serta Fakultas Pendidikan Psikologi. Jumlah peserta pada pelatihan sekitar 200 orang mahasiswa.


Menurut Dr. Arbin Janu Setyowati, seorang prokrastinator biasanya cenderung akan melakukan aktivitas lain yang tidak diperlukan dalam pengerjaan tugas. Dia baru akan mulai mengerjakan tugas atau melakukan aktivitas belajar jika tenggat waktu semakin dekat.


“Prokrastinasi cenderung dilakukan dengan alasan untuk melengkapi tugas secara optimal, namun penundaan itu tidak membuat tugas menjadi lebih baik. Sehingga hal tersebut mengarah pada penundaan yang tidak berguna. Cenderung membuang waktu secara sia-sia dalam penyelesaian tugas yang diproritaskan, dengan melakukan aktivitas lain yang kurang penting,” tambah Arbin Janu.


Karena sering menunda mengerjakan tugas atau belajar secara optimal, maka akibatnya mahasiswa yang mengalami prokrastinasi akan merasa bersalah atau menyesal. Akan tumbuh rasa tidak puas atau kecewa terhadap tugas akademik yang dilakukan. Tugas yg diselesaikan hasilnya kurang optimal sehingga dia gagal menunjukkan performa terbaik.


Bagaimana cara cerdas untuk mengatasi problem prokrastinasi ? Menurut Dr. Arbin Janu Setyowati ada beberapa strategi yang bisa diterapkan untuk mengatasi prokrastinasi. Di antaranya yakni dengan Strategi Manajemen Waktu.


“Strategi manajemen waktu memang bisa untuk mengatasi prokrastinasi akademik. Caranya di antaranya susun list prioritas tugas akademik, tentukan waktu pelaksanaan tugas tersebut, temukan waktu kerja yang optimal, serta prioritaskan tugas berdasarkan tingkat kepentingan,” tambah Dr. Arbin Janu Setyowati,M.Pd. (Zen)

Mahasiswa Harus Pandai Mencari dan Mengelola Sumber Belajar

MALANG ( Merdeka News ) : Agar mudah sukses dalam menempuh kuliah, maka mahasiswa harus pandai mencari serta mengelola sumber belajar. Dengan langkah tersebut maka belajar materi apapun akan lebih mudah, serta lancar dan terstruktur dengan baik.


Demikian ditegaskan oleh Dr. Hj. Muslihati,M.Pd, S.Ag, Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Nenegri Malang (UM), saat tampil sebagai narasumber pada Pelatihan Keterampilan Belajar Bagi Mahasiswa UM, kemarin.


Pelatihan Keterampilan Belajar Bagi Mahasiswa UM ini diselenggarakan oleh P2BK3A (Pusat Pengembangan Bimbingan Konseling Karier dan Kompetensi Akademik), LP3 UM. Pelatihan diikuti para mahasiswa dari 8 fakultas di UM, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Sastra, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Sosial, serta Fakultas Pendidikan Psikologi. Jumlah peserta pada pelatihan sekitar 200 mahasiswa.


Terkait Definisi Sumber Belajar, Dr. Hj. Muslihati mengutip pendapat Edgar Dale yang menyatakan bahwa sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar seseorang.
Menurut Dr. Hj. Muslihati ada beberapa jenis Sumber Belajar di Perguruan Tinggi. Sumber belajar dari perorangan misalnya dosen, guru, instruktur, siswa, tenaga ahli, nara sumber, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga, serta tokoh karier. Ada juga sumber belajar cetak di antaranya buku, koran atau majalah.


“Selain itu ada sumber belajar elektronik atau online. Misalnya saja TV, radio, hp, laptop yang di dalamnya memuat file, film, slides, serta gambar yang mungkin dapat diakses melalui GD, Website atau Cloud,” tambah Dr. Hj. Muslihati.


Kajur Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang ini juga memaparkan, bagaimana strategi mencari sumber belajar secara langsung. Yakni dengan mendengar pembicara secara langsung dan berdialog atau wawancara dengan tokoh yang bersangkutan. Sedangkan strategi mencari sumber belajar tak langsung yakni dengan membaca bahan, mendengarkan rekaman video atau browsing file.


“Dari semua strategi tersebut yang sangat penting yakni strategi mengelola Sumber Belajar. Caranya gunakan aplikasi penyimpan data sumber belajar yang mudah direcall. Kemudian klasifikasi dan simpan dalam folder-folder dengan nama sesuai jenis data, lantas langkah terakhir jangan lupa siapkan backup data,” tambah Dr. Hj. Muslihati,M.Pd, S.Ag. (Zen)

Program Rumah Belajar Dukung Akses Pendidikan Anak

JAKARTA ( Merdeka News ) : Kesehatan dan pendidikan merupakan hal mendasar yang penting dalam peningkatan kualitas SDM sehingga, penting untuk memastikan bahwa anak-anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas agar dapat terus belajar dengan optimal demi kemajuan Indonesia.

Karena itu Danone Indonesia melalui SGM Eksplor Pro-gress Maxx bekerja sama dengan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) dan Ruangguru mendukung terbentuknya sumber daya manusia (SDM) yang unggul melalui program ‘Rumah Belajar Generasi Maju dan Kelas Generasi Maju’.

Kedua program ini merupakan upaya kolaborasi bersama untuk memberikan dukungan akses pendidikan dan perbaikan fasilitas belajar untuk mendukung anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi maju. Sebagaimana diketahui penutupan kegiatan sekolah di masa pandemi, berimbas pada terbatasnya akses pembelajaran bagi siswa dalam kondisi yang kurang beruntung. Siswa yang berada dalam situasi kurang beruntung tersebut, berpotensi mengalami penurunan kemampuan belajar.

Dr. Hurip Danu Ismadi, M.Pd selaku Widyaprada Ahli Utama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengatakan peningkatan akses dan kualitas pendidikan merupakan salah satu prioritas penting pemerintah.

“Kami sangat menghargai segala inisiatif pihak swasta, seperti kolaborasi dan kontribusi yang sangat baik antara Danone Indonesia, Alfamart dan Ruangguru melalui dua program strategis ‘Rumah Belajar Generasi Maju dan Kelas Generasi Maju’ dalam upaya meningkatkan akses pendidikan di Indonesia agar kualitasnya semakin baik. Kedua program tersebut merupakan kolaborasi yang penting antara pemerintah dan dunia swasta, dimana pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar menjadi landasan dari semua jenjang pendidikan selanjutnya sampai dengan perguruan tinggi.

Menurut Urip semakin memfasilitasi dan memberikan proses pembelajaran yang baik kepada anak-anak usia dini dan sekolah dasar, maka akan semakin memberikan kesiapan kepada mereka dalam mengeksplorasi semua potensinya serta memberikan harapan generasi maju di masa yang akan datang. (Nrc)

Mahasiswa Harus Profesional di Bidang Yang Sedang Dipelajari

MALANG ( Merdeka News ) : Belajar di perguruan tinggi berbeda dengan belajar saat di sekolah menengah. Belajar di perguruan  tinggi, merupakan belajar sebagai orang dewasa. Setidaknya ada dua macam orientasi. Pertama kelompok orang-orang yang belajarnya berorientasi pada penampilan dan kedua kelompok yang berorientasi pada belajar.

Demikian ditegaskan oleh Drs. I Wayan Dasna, M.Si.,M.Ed.,Ph.D, Ketua LP3 (Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran) Universitas Negeri Malang (UM), saat membuka Pelatihan Keterampilan Belajar Bagi Mahasiswa UM, Senin (5 April 20210).

Dijelaskan  I Wayan Dasna  Ph.D , mahasiswa yang berorientasi pada penampilan,  mempunyai pandangan  bahwa belajar yang penting mendapat nilai, dan akhirnya lulus. Kuliah agar orang lain memandang bahwa ia menyandang status sebagai mahasiswa.  Kelompok mahasiswa yang demikian ini, maka mereka hanya akan mendapat nilai, mendapat status, tetapi tidak menguasai konten perkuliahan.

“Pada kelompok kedua, mahasiswa  dalam belajar benar-benar berorientasi penguasaan keilmuan yang sedang dipelajari. Mereka belajar untuk memenuhi rasa ingin tahu. Dengan demikian mereka aktif mempertanyakan untuk memenuhi dorongan keingintahuannya. Mereka juga aktif mencari sumber belajar, materi kuliah dibaca dan dipelajari sehingga terpuaskan rasa ingin tahunya, dan materi yang dipelajari benar-benar diingat dan dikuasai,” tutur  I Wayan Dasna Ph.D.

I Wayan Dasna  mengingatkan, belajar harus ada niat dari dalam diri sendiri, tidak hanya karena takut. Misalnya takut pada dosen jika tidak bisa menjawab, takut tidak lulus atau takut pada orang tua. Semakin dikuasai rasa takut, biasanya justru tidak tenang dalam belajar dan justru gagal dalam menguasai materi yang dipelajari.

Sesuai  Pedoman Akademik Universitas Negeri Malang pada pasal 2 ayat 4  dijabarkan bahwa profil lulusan UM adalah lulusan yang bertaqwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, memiliki komitmen kebangsaan, dan mampu berkembang secara profesional. Di samping itu juga lulusan  yang inovatif dan adaptif yang kapabel mendayagunakan teknologi dalam bidang keilmuannya.

Maka mahasiswa UM, sedang menuju pada kondisi seperti yang diprofilkan tersebut. Menjadi diri yang profesional di bidang yang sedang dipelajari dengan karakter yang bertaqwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri berkomitmen kebangsaan. Lebih dari itu juga menjadi sumber daya manusia yang memiliki kapabilitas di bidang keilmuannya, yang ditunjukkan dengan kinerja yang kreatif, inovatif dan adapdif. 

“Sebagai mahasiswa yang mempunyai kemampuan dalam berinovasi, harus menguasai konten atau materi yang dipelajari. Di sinilah keterampilan dalam belajar harus dikuasai mahasiswa. Di antaranya bagaimana mencari dan mengelola sumber belajar, keterampilan dalam membaca, menulis, mengelola diri dalam aktivitas belajar, termasuk keterampilan dalam mengatasi prokrastinasi dalam belajar,” tambah Drs. I Wayan Dasna, M.Si.,M.Ed.,Ph.D.

Pelatihan Keterampilan Belajar Bagi Mahasiswa UM  ini diselenggarakan oleh P2BK3A (Pusat Pengembangan Bimbingan Konseling Karier dan Kompetensi Akademik), LP3 UM.  Pelatihan diikuti para mahasiswa dari 8 fakultas di UM, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Sastra, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Sosial, serta Fakultas Pendidikan Psikologi. Jumlah peserta pada pelatihan sekitar 200 mahasiswa.

Menurut Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd, Kepala P2BK3A, LP3 UM, setelah mengikuti pelatihan para peserta diharapkan  mampu mencari sumber belajar secara efektif dan efisien, serta mampu melaksanakan analisis dan sintesis terhadap sumber bacaan yang ditemukan. Selain itu para mahasiswa peserta pelatihan diharapkan mampu menerapkan konsentrasi belajar yang baik dan mampu melaksanakan self regulated learning.

Dalam pelatihan ini melatihkan Sebagian kecil dari keterampilan yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Pelatihan disampaikan oleh narasumber yang berkompeten di bidanagnya. Masing masing yakni Dr. Muslihati,M.Pd S.Ag menyampaikan matari Mencari dan Mengelola Sumber Belajar, Dr. Arbin Janu Setyowati,M.Pd dengan materi Mangatasi Prokrastinasi Akademik, dan Aji Bagus Priambodo,M.Psi melatih dalam mengelola diri dengan strategi Self Regulated Learning.

Pelatihan dilaksanakan secara daring asinkronus melalui SIPEJAR mulai tanggal 26 Maret 2021. Peserta secara mandiri mempelajari materi yang telah disiapkan di SIPEJAR, serta mengerjakan Latihan-latihan untuk melatih keterampilan. Selanjutnya pada tanggal 5 April 2021, pelatihan diteruskan dengan sesi sinkronus melalui zoom meeting, mendiskusikan hasil belajar secara mandiri untuk pendalaman materi pelatihan. (MZ)

KPAI Minta Lakukan Uji Coba Sebelum Sekolah Tatap Muka

JAKARTA ( Merdeka News ) : Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan pemantauan rencana pembukaan sekolah dalam Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Dari hasil pemantauan, masih ada sejumlah sekolah yang belum siap namun melakukan PTM, Minggu (4/4/2021).

Komisoner KPAI, Retno Listyarti mengatakan, KPAI mendorong dasar pembukaan sekolah tatap muka, tidak hanya kesiapan dalam pengisian aplikasi di laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), namun pemantauan lapangan.

Hal itu untuk memastikan kesiapan sekolah dan daerah, Kemendikbud juga harus memastikan semua sekolah di Indonesia mengisi laman Kemendikbud tentang siap buka sekolah tatap muka.

“Sampai sekarang baru 50 persen lebih sedikit sekolah yang mengisi dan dari jumlah tersebut hanya 10 persen yang siap,” ujar Retno.

Retno mengungkapkan, KPAI mendorong Pemerintah Daerah melakukan rapat koordinasi daerah secara berjenjang dengan melibatkan seluruh sekolah di wilayah, baik negeri maupun swasta di seluruh jenjang pendidikan. Hal itu untuk memetakan sekolah yang sangat siap, siap, belum siap, bahkan yang tidak siap sama sekali.

“Pemetaan diperlukan agar Pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat melakukan intervensi membantu sekolah-sekolah yang belum siap dan tidak siap,” tegas Retno.

KPAI mendorong pembukaan sekolah tatap muka harus didasarkan pada kesiapan sekolah sebagai faktor utama, seperti infrastruktur dan protokol kesehatan atau SOP Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di lingkungan pendidikan, selain faktor pendukung bahwa seluruh guru sudah divaksin. Pemerintah Daerah harus waspada dan mempertimbangkan uji coba dahulu secara terbatas pada sekolah yang dinilai siap dan sangat siap.

“Sekolah yang telah siap melakukan PTM, sebaiknya dilakukan uji coba terlebih dahulu sebelum melaksanakan PTM kepada siswa,” ucap Retno. (Nnm)