Category Archive : Pendidikan

Prof Hardika: Pola Belajar Era Digital Cenderung Bersifat Disruptif

MALANG ( Merdeka News ) : Era digital industri 4.0 telah mengubah perilaku individu dan sosial dalam berinteraksi. Perubahan teknologi informasi yang cepat, telah mendorong hadirnya piranti komunikasi cerdas dalam berbagai interaksi sosial, termasuk dalam pembelajaran.


“Terkait dengan hal tersebut terjadi pula perubahan gaya belajar masyarakat, akibat dari hadirnya teknologi informasi dalam kehidupannya. Perubahan gaya belajar masyarakat ini, termasuk peserta belajar di berbagai jenjang pendidikan, tentu akan mengubah pola pembelajaran yang disampaikan pendidik,” tutur Prof. Dr. H. Hardika, M.Pd, saat pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar di Universitas Negeri Malang, kemarin.


Menurut Prof Hardika yang juga Sekretaris LP3 (Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran) Universitas Negeri Malang (UM), perubahan model pembelajaran sebagai akibat dari perubahan makna dan gaya belajar masyarakat, harus diarahkan pada upaya membangun adabtabilitas karakter perilaku peserta belajar.


Ditegaskan Prof Hardika, pola belajar era digital yang cenderung bersifat disruptif, memiliki berbagai ciri. Di antaranya yakni kecepatan, kemudahan, ketahanan, persaingan, keuntungan, kesederhanaan dan keluwesan dalam proses interaksi komunikasi.


Model pembelajaran yang adaptif dengan era digital disruptif, lanjut Prof Hardika, bukan lagi jadi alternatif yang harus dipilih peserta belajar, tapi sudah jadi kewajiban bagi pembelajar dalam menyampaikan pesan pembelajaran.


Berdasarkan hasil penelitian Prof Hardika tentang transformasi gaya belajar mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, ada 6 model gaya belajar bahasiswa di era digital.


“Enam model gaya belajar mahasiswa di era digital, sesuai hasil penelitian tersebut yakni belajar dengan menggunakan role model orang sukses, belajar dengan menggunakan media belajar inovatif, belajar berbasis kritik dari pihak lain, belajar melalui kelompok yang fleksibel, belajar berbasis piranti cerdas, serta belajar berdasar pengalaman baik pengalaman diri sendiri maupun pihak lain,” jelas Prof Hardika yang juga Guru Besar di Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang. (Zen)

Perguruan Tinggi Berkualitas Miliki Relevansi Dengan Dunia Kerja

JAKARTA ( Merdeka News ) : – Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Kemendikbudristek, Prof Nizam mengatakan perguruan tinggi yang berkualitas harus memiliki relevansi dengan dunia kerja atau nyata.

“Dengan perguruan tinggi yang berkualitas akan menghadirkan lulusan yang mandiri, kolaboratif dan inovatif, yang pada akhirnya menggerakkan ekonomi dan sosial di berbagai sektor kehidupan,” ujar Nizam dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu.

Oleh karenanya, lanjut dia, pemerataan kualitas pendidikan di semua perguruan tinggi perlu dilakukan. Selain itu, saat ini dunia kerja tidak lagi melihat ijazah seseorang dari lulusan universitas mana, tapi lebih melihat kemampuan seseorang.

“Untuk itu ada beberapa perusahaan yang tidak lagi melihat IPK, tapi lebih orang ini bisa apa, maka dari itu kita selalu mendukung perguruan tinggi di Indonesia, yakni perguruan tinggi yang unggul, kokoh, maju dan berkualitas,” terang dia.

Sejumlah program dihadirkan Kemendikbudristek untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi dan lulusan, di antaranya Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), kemudian KIP Kuliah, serta kolaborasi antar-perguruan tinggi dan industri dapat menjadi solusi untuk meningkatkan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi.

Kepala LLDikti Wilayah III, Dr Ir Paristiyanti Nurwardani mengatakan pihaknya terus mendorong perguruan tinggi di wilayahnya untuk meningkatkan mutu dengan mengacu pada delapan Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi dan kebijakan MBKM.

“Kami akan terus tingkatkan mutu dari perguruan tinggi di LLDikti Wilayah III yang berjumlah 297 PTS,” kata Paristiyanti. (Ant)

Agar Sukses Menulis Skripsi Mahasiswa Perlu Motivasi Kuat

MALANG ( Merdeka News ) : Dalam menulis skripsi sebagai tugas akhir pada  jenjang S1, sebagian mahasiswa ada yang sukses, namun sebagian lain  ada juga yang tidak sukses. Mahasiswa yang berhasil menyelesaikan skripsinya di semester ke 7 atau ke 8, bisa dikatakan sebagai mahasiswa yang sukses menyelesaikan skripsi, sehingga mereka dapat lulus dengan tepat waktu, bahkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

Demikian ditegaskan oleh Drs. I Wayan Dasna, M.Si.,M.Ed.,Ph.D, Ketua LP3 (Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran) Universitas Negeri Malang (UM), saat membuka Seminar dalam jaringan (Sedaring) sukses menulis skripsi, kemarin.

“Data menunjukkan masih cukup banyak mahasiswa yang belum berhasil menyelesaikan skripsi pada semester ke 9, ke 10, bahkan ada juga yang mencapai semester ke-13,” tutur I Wayan Dasna, Ph.D.

Menurut Ketua LP3 UM I Wayan Dasna, Ph.D, sebenarnya mahasiswa sudah memiliki bekal yang cukup dalam menulis skripsi. Mereka sudah memperoleh matakuliah metode penelitian, statistik sebagai alat dalam meneliti. Terkait dengan substansi yang diteliti, juga sudah mempelajari teori-teori dari sejumlah matakuliah di Prodi masing-masing. Akan tetapi kesulitan dalam menulis skripsi selalu saja dihadapi mahasiswa.

Ditegaskan I Wayan Dasna, Ph.D. dalam proses menulis skripsi, belum cukup hanya berbekal penguasaan substansi yang diteliti serta metode penelitian saja. Mahasiswa perlu memiliki motivasi yang kuat, mampu memanajemen diri, memiliki keterampilan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan dosen pembimbing.

Ditambahkan oleh I Wayan Dasna, menjadi pembimbing skripsi selama lebih 30 tahun,  memberi pengalaman yang sangat bervariasi. Ada mahasiswa yang jarang sekali berkonsultasi. Jika konsultasinya jaraknya sangata lama, maka dosen pembimbing bisa lupa dengan mahasiswa bimbingaannya. Ada yang lama sekali tidak konsultasi, tiba-tiba datang dengan membawa naskah yang sudah sampai bab terakhir.

“Kondisi seperti ini menyebabkan dosen pembimbing bisa mencurigai, apakah skripsinya ditulis sendiri atau dibuatkan oleh orang lain. Namun ada juga mahasiswa yang selalu melaporkan setiap perkembangan skripsinya, meskipun melalui WA. Nah yang konsultasi secara intensif seperti ini kemungkinan besar dapat berhasil menyelesaikan dengan cepat dan benar,” tegas Ketua LP3 UM Drs. I Wayan Dasna, M.Si.,M.Ed.,Ph.D .

Kegiatan sedaring sukses menulis skripsi merupakan salah satu program Pusat Pengembangan Bimbingan Konseling Karier dan Kompetensi Akademik (P2BK3A), LP3, UM. Diikuti oleh sekitar 100 orang mahasiswa dari 8 fakultas di Universitas Negeri Malang, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Sastra, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Sosial, serta Fakultas Pendidikan Psikologi.

Dikatakan Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd, Kepala P2BK3A, LP3 UM, topik sukses menulis skripsi ini dipandang penting sebab fakta menunjukkan masih banyak mahasiswa yang belum menyelesaikan skripsi secara tepat waktu. Dengan mengikuti sedaring tersebut, mahasiswa yang sedang menulis skripsi dan menemui kendala, diharapkan dapat mengatasi kendalanya serta skripsinya cepat rampung.

“Kami berharap pelatihan sukses menulis skripsi dapat memberikan manfaat bagi para peserta. Selain itu juga diharapkan dapat memberikan sumbangsih ketercapaian target kinerja Universitas Negeri Malang khususnya dalam membantu mahasiswa menyelesaikan tugas akademiknya,” tambah Ella Faridati Zen, M.Pd.

Narasumber dalam kegiatan pelatihan sukses menulis skripsi terdiri dari 5 narasumber yang ahli dalam bidangnya masing-masing dan relevan dengan materi yang dikembangkan. Masing-masing yakni  Prof. Dr. Suyono, M.Pd (Direktur Akademik UM ),  Ani Wilujeng Suryani, S.E, M.ActgFin, Ph. D (Dosen Departemen Akuntasi, Fakultas Ekonomi UM), Dr. Didin Widyartono S.S., S.Pd., M.Pd (Dosen Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Sastra UM), Ediyanto, S.Pd, M.Pd, P.hD (Dosen Departemen Pendidikan Luar Biasa FIP UM), Dr. Muslihati, S.Ag, M.Pd (Dosen Departemen Bimbingan dan Konseling FIP UM) serta  Aji Bagus Priambodo, S.Psi, M.Psi. (Dosen FPPsi UM).  (MZ)

Rakernas Alumni ITS Diharap Lahirkan Ide Pembinaan SDM Unggul

SURABAYA ( Merdeka News ) : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berharap Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Alumni ITS bisa menghasilkan terobosan dan gagasan untuk membantu pemerintah mencapai target Indonesia Emas 2045.

Dalam pidato sambutannya di Rakernas Alumni ITS secara virtual, Menko Airlangga menegaskan, target Indonesia Emas 2045 harus disiapkan. Pemerintah berupaya mendorong penciptaan SDM unggul yang kreatif, cakap digital, dan mempunyai mental kewirausahaan untuk menyongsong momentum Indonesia Emas.

“Semoga Rakernas ini dapat menghasilkan gagasan dan inovasi yang tentunya mencerminkan kearifan dan juga terobosan yang dilakukan oleh para alumni ITS,” tutur Menko Airlangga.

Airlangga menambahkan, kebijakan-kebijakan untuk mencapai Indonesia Emas sudah dilakukan. Antara lain, kebijakan hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri, mendorong sektor manufaktur yang berdampak luas meningkatkan devisa dan investasi, kebijakan program substitusi impor, dan kebijakan terkait peningkatan kualitas SDM Indonesia dengan penciptaan digital talent.

Ketua Umum Partai Golkar ini mengaku, potensi ekonomi digital di tahun 2021 adalah 70 miliar dolar AS. Jumlah ini diperkirakan akan naik di tahun 2025 menjadi 146 miliar dolar AS.

“Indonesia tentunya membutuhkan SDM yang jumlahnya besar, yaitu 9 juta orang sampai tahun 2030. Inilah yang menjadi tantangan agar Perguruan Tinggi mampu mencetak sarjana-sarjana yang digital literate,” ujar Airlangga.

Pemerintah juga telah memberikan dukungan melalui pengembangan talenta digital. Antara lain melalui Kartu Prakerja dan Gerakan Nasional Literasi Digital untuk masyarakat umum, Digital Talent Scholarship untuk level tenaga profesional, dan Digital Leadership Academy untuk para pimpinan.

Selain untuk meningkatkan jumlah talenta digital di Indonesia, program-program tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan jumlah wirausaha di Indonesia.

Menurut Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) ini, pemerintah mengharapkan jumlah wirausaha di Indonesia dapat meningkat dan mencapai 5 persen.

Pemerintah juga telah menciptakan dan memberikan berbagai regulasi yang memberikan perlindungan dan kemudahan kepada UMKM termasuk pembiayaannya.

Misalnya, dukungan pembiayaan bisa diperoleh melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 373 triliun dengan bunga 3 persen sampai akhir 2022. (Tnp)

Stafsus BPIP : Pembumian Pancasila Langkah Tepat Cabut Radikalisme

JAKARTA ( Merdeka News ) : Staf Khusus Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia Antonious Benny Susetyo menyatakan pembumian pancasila sebagai langkah yang tepat dalam mencabut radikalisme.

Pernyataan tersebut disampaikan pada acara penguatan karakter komponen bangsa dalam menangkal radikalisme /separatisme di hotel Aston Kartika Grogol Jakarta Barat. Acara ini juga dihadiri oleh petinggi TNI AD, Kepala Pusat Diklat tenaga teknis kependidikan dan keagamaan badan litbang dan diklat kementrian agama dr Imam Syafii,M.pd,direktur deradikalisasi badan nasional penanggulangan terorisme (bnpt) prof irfan ,Mayjen (Purn) Wisnu Bawa Tenaya. beberapa tokoh agama dan organisasi masyarakat lainnya.

Antonious Benny Susetyo menekankan latar belakang radikalisme adalah suatu paham yang digunakan oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial politik secara drastis dengan menggunakan kekerasan. Menurutnya dalam catatan sejarah radikalisme di indonesia banyak gerakan dari masa ke masa yang berusaha menekan pemerintahan yang sah dengan mengatasnamakan agama maupun golongan.

“Radikalisme itu dipakai semua agama.semua itu dipakai untuk membenarkan agama dengan cara kekerasan,” ujar benny.

Benny menjelaakan akar dari radikalisme ada dan berkembang di semua negara.”Dalam catatan itu faham radikalisme adalah kepentingan sempit yang menggunakan segala cara untuk menggantikan ideologi pancasila.Menggunakan agama itu mudah menjadi sesuatu yang dimanipulasi dan tidak melihat kedalam konteks sosial budaya,” ujarnya.

Lebih lanjut Romo Benny menjelaskan bahwa pemahaman agama itu tidak bisa diajarkan dalam waktu instan,untuk menguasainya dibutuhkan waktu dan pengahayatan yang lama.”jika kita tidak melihat konteks agama dan kitab secara arti sebenarny maka itu mengakibatkan kesalahpahaman,” tandasnya.

Menurut Benny di satu sisi kita harus menghormati martabat dan kebudayaan dan ditempatkan dalam tempat yang seimbang.”Selain pendekatan budaya dan agama kita juga harus melakukan dengan pendekatan kemanusiaan”ujar benny.

“Hal ini dilakukan untuk mengcounter kebanyakan faham radikal dan teroris yang mengamalkan budaya kematian dan menyukai budaya kematian.Hal itu semata-mata dilakukan karena mereka yang melakukan itu ibarat takut hidup tapi berani mati.Orang-orang ini pada dasarnya adalah orang yang mencari eksistensi diri berdasarkan janji dari kepentingan pihak tertentu,” ujar Benny

Ditengah paparanya Benny berujar bahwa disini peranan pemerintah sangat penting untuk bagaimana mewujudkan ide tentang tri kerukunan agama dan emanitas iman sehingga nantinya akan sering muncul perjumpaan dan dialog antar agama untuk mengikis kecurigaan dan anggapan akan dominasi agama tertentu lambat laun bisa menghilang.

“Disini ditekankan peranan penting Pancasila dalam moderasi beragama yaitu bagaimana Pancasila itu menjadi habitus bangsa, maka Pembatinan nilai pancasila itu penting agar output kedepannya pancasila itu menjadi alat pemersatu yang hadir sebagai living ideologi dan working ideologi juga” tambah Benny.

Ia menambahkan bahwa Pancasila itu memperkuat persatuan dan keadilan.”Keadilan sosial itu tidak tercipta jika masyarakat indonesia terutama kita masih dalam ego sektoral termasuk dalam upaya memenuhi kebijakan publik , oleh karena itu BPIP mendorong dengan catur upaya Pancasila yang harus diwujudkan oleh segenap bangsa indonesia dengan aspek keadilan, cinta kasih, kepantasan dan sikap berani berkorban” tambah Benny.

Oleh karena itu menurut Benny Pembumian Pancasila adalah sebuah cara yang tepat untuk mengatasi ekstrimisme di Tanah air kita tercinta Indonesia.

“Sekarang kita butuh role model yaitu tokoh besar kita untuk membumikan nilai-nilai Pancasila dengan cara yang posiitif berupa prestasi dan karya yang membanggakan bangsa indonesia,.” Ujarnya.Disebutnya Media juga harus membantu dengan sepenuh hati dan jangan hanya secara parsial mempertontonkan koruptor dan dunia hitam saja.

“Banyak sekali energi psoitif yang bisa kita tampilkan di media mengenai Pancasila pada umumnya, Karena Pancasila merupakan cara menghayati agama yang universal, hal itu selaras jika orang yang mempunyai jiwa agama yang kuat maka orang itu biaa mencintai pancasila dan toleransi beragama pada umumnya”.pungkas Benny dalam pemaparannya di dialog tersebut.

Sementara itu Dr Imam Syafii dari Kementerian Agama menjelaskan sebagai bangsa indonesia harus bersyukur mempunyai 4 pilar berbangsa dan bernegara indonesia.

“Dengan anugerah yang luar biasa di Indonesia ini dari pengalaman yang saya amati ternyata semua dari kita itu berbeda,entah itu berbeda suku bahasa agama maupun keyakinan, disini kita harus menjaga toleransi dan keberagaman.Bagaimana merawat keberagaman dalam moderasi beragama itu adalah hal yang penting diantaranya adalah dengan mengahargai perbedaan suku agama,dialog,menolak intoleransi dan ekstrimisme” ujarnya.

Menurut Syafii Indikator Intoleransi itu diantaranya adalah sikap tidak menghargai orang lain.”Oleh karena itu dalam beberapa tahun kedepan di kementrian agama akan ada pendidikan moderasi agama.Walaupun moderasi beragama itu dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai pendangkalan beragama tetapi kita harus sadari bahwa dengan moderasi beragama kita bisa menghaargai perbedaan dan mensyukurii keberagaman,” ujarnya.

DI tengah paparannya Syafii menyatakan bahwa perpecahan dan pertikaian penyulutnya terkadang sederhana yaitu tidak menghargai perbedaan dan menghayati keberagaman. “Batasan ekstrim dalam cara pandang beragama adalah mencederai nilai kemanusiaan, melabrak kesepakatan bersama antar agama dan melanggar ketentuan hukum yang menjadi panduan bermasyarakat berbangsa dan bernegara” Ujar Syafii.

“Sedangkan Indikator ekstrimisme adalah keyakinan yang sangat kuat yang melampui kewajaran dan bertentangan hukum yang berlaku.Kita harus tanamkan kerukunan dan persatuan agar tidak terjadi kerusuhan dan itu memang yang kita harapkan,” Tambah Syafii.

Saat ini menurut Syafii Beberapa negara sudah mengajak Indonesia untuk melakukan moderasi beragama,melalui lintas agama coba kita sampaikan dan semua terlibat dalam konsep moderasi beragama.”Indikator moderasi beragama itu adalah komitmen kebangsaan,toleransi anti kekerasan dan penerimaan terhadap tradisi yang mana hal ini akan kita kembangkan.Moderasi beragama itu mengajarkan kita untuk mencintai negara dan bangsa bukan hanya mencintai agama,”Ujar Syafii.

Prof Irfan Idris Direktur Deradikalisasi BNPT berharap organisasi yang hadir di acara ini bekerja sama untuk menangkal radikalisme.

“Strategi penguatan dan prioriras karakter mana yang harus dikuatkan,komponen bangsa dari unsur mana yang harus dikuatkan.ada sekolompok orang yang mengidentikan terorisme dengan islam maka harus kita pelajari bahwa terorisme itu ada di semua agama,” ujarnya.

Idris menambahkan Ada 30 istilah yang dplintirkan utk memuluskan aksi terorisme.”Banyak tindakan yang disalahgunakan atas nama ayat dipotong” untuk memuluskan aksi terorisme juga . strategi penanganan radikalisasi yaitu dengan memasuki hati,berjaba tangan dan terakhir kita sentuh kesadaran pemikiran,”tutup beliau. (Nng)

Ditjen Diktiristek Kerjasama Dengan UGM Kembangkan Kampus Merdeka

YOGYAKARTA ( Merdeka News ) : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengadakan acara penandatanganan kerja sama terkait pembentukan Tim Project Management Office (PMO) Kampus Merdeka dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, kemarin.

Pembentukan Tim PMO Kampus Merdeka ini bertujuan untuk menyukseskan empat program unggulan (flagship) Kampus Merdeka pada tahun 2022. Tim PMO Kampus Merdeka yang akan dipimpin oleh Universitas Gadjah Mada ini terdiri atas 350 pegawai yang merupakan bagian internal UGM, pegawai institusi dari luar UGM (10%), dan pegawai kontrak.

Dalam pelaksanaan program-program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Pelaksana tugas (Plt.) Dirjen Diktiristek Nizam menuturkan bahwa rangkaian program MBKM khususnya magang menjadi salah satu transformasi besar di dalam dunia pendidikan tinggi. Hal ini bisa mendorong mahasiswa untuk mendapatkan kompetensi di luar dari program studi yang mahasiswa emban.

“Harapannya, mahasiswa mampu mengimplementasikan apa yang mereka dapat selama program MBKM berlangsung dan menjadi lulusan yang lebih siap dan handal dalam menyikapi dunia kerja ke depannya,” jelasnya.

Nizam menuturkan bahwa Presiden Jokowi sangat mengapresiasi program MBKM ini khususnya program magang karena ini merupakan program yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Dari hasil survei, sekitar 90% mahasiswa puas dan sangat puas dan mereka merekomendasikan program ini untuk dilanjutkan ke adik-adik kelasnya.

“Hal ini menunjukkan bahwa program ini yang mereka butuhkan dan dengan orientasi kepada mahasiswa sehingga program ini adalah jalan untuk mengembangkan kompetensi anak-anak kita sehingga ikut membangun ekonomi baru yang lebih dinamis di sisi dunia kerja,” kata Nizam.

Ke depannya, lanjut Nizam, akan banyak profesi yang bersifat statis dapat mengalami destruksi besar oleh teknologi. Salah satu contohnya Artificial Intelligence yang dapat membantu di bidang kesehatan.

“Oleh karena itu, kita harus membekali mahasiswa dengan kompetensi yang sebelumnya kita tidak pernah pikirkan ke depannya akan menjadi kompetensi yang dibutuhkan. Dengan mengikuti program MBKM ini, mahasiswa dapat mengumpulkan portofolio yang kaya untuk kebutuhan kerja di masa depan,” tambahnya.

Dalam kerja sama yang dilaksanakan dengan UGM, Ditjen Diktiristek mengharapkan hal ini dapat menjadi contoh transformasi kurikulum yang lebih cepat. “Sebanyak 150 ribu mahasiswa ditargetkan oleh Presiden Jokowi untuk dapat bergabung dalam program magang bersama industri sehingga nantinya mampu menghasilkan generasi emas yang siap dan handal dalam menjawab tantangan di masa depan,” pungkasnya. (Kr)

Mahasiswa Dituntut Mengasah Diri Menjadi Entrepreneur

SURABAYA ( Merdeka News ) : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berharap Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) dapat membentuk incubator-inkubator bisnis untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa. Menurut Menko Perekonomian, peningkatan kewirausahaan menjadi fokus penting untuk menaikkan rasionya di Indonesia yang masih di angka 3,47 persen dari total populasi.

Airlangga menegaskan, pemerintah membuka peluang besar kepada siapapun untuk menjadi wirausaha melalui berbagai program. Baik berupa program pembiayaan melalui Kredit Usaha rakyat (KUR), pelatihan pengembangan kemampuan, hingga pelatihan digital untuk mendukung pengembangan usaha. Menko mendorong banyak muncul wirausaha muda dari mahasiswa UWKS.

“Saya berharap agar mahasiswa selalu mengikuti perkembangan zaman dan mengasah diri untuk menjadi entrepreneur. Seperti moto UWKS yakni ‘Anggung Wimbuh Linuwih’, agar mahasiswa selalu tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik serta pertahankan nilai-nilai bangsa dan budaya Indonesia,” tutur Airlangga saat memberi Kuliah Umum di UWKS, kemarin.

Menurut Menko Perekonomian, munculnya wirausaha dari mahasiswa maupun generasi muda Indonesia bisa membangkitkan perekonomian nasional.

Hal ini dibutuhkan karena saat ini Indonesia masih dilanda pandemi Covid-19. Airlangga optimistis, jiwa kewirausahaan yang kian banyak membuat Indonesia keluar dari pandemi Covid-19. “Saya yakin kita bisa keluar sebagai juara dari pandemi Covid-19 ini,” ujar Menko Airlangga.

Ketua Umum DPP Partai Golkar ini menegaskan, pemerintah telah menyiapkan banyak program untuk mendorong peningkatan kualitas generasi muda Indonesia. Antara lain, melalui Program Bidik Misi/Kartu Indonesia Pintar Kuliah yang akan menjangkau 713,8 ribu mahasiswa, Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan untuk 8.600 mahasiswa baru dan 20.090 mahasiswa on going, bantuan operasional sekolah yang akan menyasar 8,8 juta siswa, serta program Indonesia Pintar yang akan diterima oleh 20,1 juta siswa.

Namun, Airlangga mengingatkan, akselerasi dalam meningkatkan kualitas SDM dan transformasi ekonomi memerlukan koordinasi dan sinergi dengan perguruan tinggi.

Secara khusus UWKS diharapkan terus dapat bekerjasama mendorong Pendidikan Tinggi agar dapat mengembangkan riset-riset yang inovatif, dan juga dapat terus berinovasi, serta ikut dalam memberdayakan masyarakat.

Airlangga yang juga Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) ini mengatakan, Indonesia saat ini tengah merasakan bonus demografi dengan mayoritas generasi muda usia produktif (16 s.d. 30 tahun).

Berdasarkan sensus penduduk Badan Pusat Statistik tahun 2020, Indonesia memiliki 64,50 juta pemuda dari total 270,20 juta penduduk. Bonus demografi ini tentunya akan mendorong produktivitas dan dari segi demand. Oleh karena itu, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi sangat krusial.

“Melalui APBN 2022, pemerintah akan terus berkomitmen meningkatkan kualitas SDM. Anggaran yang telah disiapkan adalah sebesar Rp 542,8 triliun dan ini dipergunakan untuk peningkatan kualitas SDM sebagai modal utama pembangunan nasional,” tegas Airlangga. (Tnp)

Pemerintah Dorong Transformasi Digital Menopang Perkembangan Industri Kesehatan

BANDUNG ( Merdeka News ) : Kemandirian nasional, terutama dalam upaya melalui kondisi pandemi saat ini, merupakan bekal Indonesia untuk keluar dari pandemi sebagai negara yang lebih kuat.

Pemulihan ekonomi nasional tidak terlepas dari pemulihan yang terjadi di sektor industri, karena sektor ini menopang 19,15% dari perekonomian nasional. Optimisme sektor industri masih terlihat di Triwulan IV-2021, ditandai dengan PMI Manufaktur kembali berada di wilayah ekspansif dengan mencatatkan angka 53,5 pada Desember 2021.

Utilisasi Industri Pengolahan juga terus meningkat dan mencapai yang tertinggi dengan capaian 67,6%. Impor Barang Modal dan Bahan Baku masing-masing tumbuh 23,1% dan 60,5% (yoy) pada November 2021. Seluruh indikator mencerminkan bahwa sektor industri kita semakin solid dalam menopang pemulihan ekonomi nasional.

Momentum perbaikan dari sektor industri ini, tentunya menjadi hal yang baik bagi para pelaku industri termasuk di dalamnya para insinyur dan akademisi di bidang ilmu Teknik Industri.

“Sebagaimana kita harus beradaptasi di masa pandemi, para insinyur Teknik Industri juga harus beradaptasi menghadapi era Industri 4.0 yang ditandai dengan pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan layanan konsumen secara global,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto secara virtual pada acara Puncak 50 Tahun Dies Natalis Teknik Industri – Institut Teknologi Bandung, kemarin.

Salah satu yang menjadi fokus pengembangan Pemerintah yakni industri sektor kesehatan. Industri kesehatan termasuk di dalamnya industri farmasi, merupakan salah satu sektor yang sangat diutamakan terutama dalam kondisi pandemi saat ini.

Dalam rangka meningkatkan daya saing Indonesia dalam sektor industri, Pemerintah juga mendorong terjadinya transformasi berbasis digital untuk menopang perkembangan industri kesehatan. Transformasi tersebut dapat berperan dalam memudahkan proses distribusi, penguatan jejaring kesehatan, mengefektifkan proses administrasi, dan mendukung performa yang lebih efektif serta efisien.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga tahun 2021, Indonesia memiliki 241 industri manufaktur farmasi, 17 industri bahan baku farmasi, 132 industri kesehatan tradisional, dan 18 industri produk ekstraksi alam. Berbagai industri tersebut telah mengekspor produk farmasi dan alat kesehatan ke berbagai negara di dunia antara lain Amerika Serikat, Inggris, Vietnam, Belanda, Singapura, dan Korea Selatan.

“Dalam mendukung upaya pengembangan industri kesehatan, Pemerintah telah menyusun Peta Jalan dengan tujuan untuk meningkatkan produksi bahan baku berteknologi tinggi,” ujar Menko Airlangga.

Pemerintah juga telah mendorong munculnya riset dan inovasi melalui Pendanaan Riset Inovatif Produktif yang dikelola oleh LPDP untuk para akademisi, serta menyediakan insentif Super Deduction Tax untuk para technopreneur yang melakukan kegiatan Litbang. Berbagai kebijakan ini dapat dimanfaatkan agar sektor industri nasional dapat melahirkan inovasi-inovasi yang diciptakan insinyur Teknik Industri.

Tujuan jangka panjang dari upaya ini adalah untuk mencapai kemandirian industri kesehatan sehingga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan menurunkan ketergantungan pada bahan impor.

“Dengan terus meningkatkan kemampuan teknikal, manajerial, komunikasi, dan memperkaya skill-set, saya yakin para Insinyur Teknik Industri mampu bersaing secara global dan memberikan sumbangsih besar bagi bangsa” pungkas Menko Airlangga. (Tnp)

Semua Kampus Didorong Mulai Kuliah Tatap

JAKARTA ( Merdeka News ) : Pelaksanaan Kuliah tatap muka di perguruan tinggi belum mencapai 100 persen. Meskipun belum seluruh Perguruan Tinggi melaksanakan PTM seratus persen, namun Nizam menyebut bahwa kampus perlahan sudah mulai melakukan PTM dengan kapasitas 50 persen.

“Rata-rata PTM di kampus itu sudah mulai PTM langsung. Biasanya mereka mulai dari angkatan 2020-2021 yang memang belum pernah mengenal kampus,” tutur Nizam.

Keputusan pengajuan berapa persen pelaksanaan PTM di perguruan tinggi sejatinya merupakan kewenangan kampus. Penyesuaian itu nantinya akan diverifikasi ulang oleh pihak Kementerian dan Satgas, utamanya dalam melihat kesiapan sarana dan prasarana penunjang PTM.

“Pengajuan berapa persen PTMnya itu kami serahkan ke kampus untuk menyesuaikan. Kita lihat fasilitasnya, Prokes dan SOP harus ada, dan koordinasi Dinkes daerah. Yang jelas kita sudah mendorong kampus melaksanakan PTM,” tegas Nizam.

Semua persiapan itu pun diakui Nizam juga tercermin dari tingkat capaian vaksinasi masyarakat kampus. Diklaim Nizam, saat ini capaian vaksinasi di lingkungan kampus sudah menunjukan tren yang sangat baik.

“Jika dosen dan tenaga didik sudah diatas 80 persen rata-rata. Itu pun sisanya yang tercatat komorbid saja, sehingga belum bisa dilakukan vaksinasi. Tapi, secara umum sudah amat baik,” tambah Nizam. (Kr)

DP3A Kabupaten Malang Gelar Bimtek Cegah Pernikahan Usia Dini

MALANG ( Merdeka News ) : Tingginya angka permintaan dispensasi usia menikah di Kabupaten Malang menjadi sorotan banyak pihak. Persoalan pernikahan usia muda atau usia dini juga menjadi penyebab tingginya angka perceraian di wilayah ini. Kondisi masa pandemi semakin memperparah kondisi ini. Dampak buruk pernikahan usia dini baik pada kualitas Kesehatan anak dan ibu, akan berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia kabupaten Malang di masa yang akan datang.

Menyikapi hal tersebut maka Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Malang menggelar Bimbingan Teknis bagi Konselor Pencegahan Pernikahan Dini. Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Regent Malang ini berlangsung mulai tanggal 20 Desember hingga 22 Desember 2021.

Sebanyak 50 orang peserta yang terdiri dari Ketua PKK Kecamatan se kabupaten Malang, Ketua PKK dari beberapa desa di wilayah kabupaten Malang serta pengurus PKK khususnya Kelompok Kerja atau POKJA 1 dari beberapa desa hadir sebagai peserta bimbingan teknis untuk mempelajari strategi pencegahan pernikahan dini yang selanjutnya diterapkan dalam Program PKK di wilayah masing-masing.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Malang Harry Setiabudi, S.STP., M.Si. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan wawasan dan kompetensi para tokoh perempuan kabupaten Malang agar semakin berperan dalam menurunkan angka pernikahan usia muda melalui perannya sebagai konselor dan edukator atau pendidik. Kepala Dinas berharap kegiatan ini akan bermanfaat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap resiko dan bahaya pernikahan usia muda.

Dalam kegiatan ini peserta belajar tentang analisis sosial fenomena penikahan usia muda dan strategi preventifnya, penguatan wawasan kesehatan reproduksi sebagai upaya pencegahan pernikahan usia muda, pencegahan pernikahan dini dari perspektif agama, edukasi pencegahan pernikahan dini melalui kearifan lokal dan teknik komunikasi konseling pencegahan pernikahan usia muda.

Pada akhir kegiatan, peserta mengembangkan rencana tindak lanjut berupa program kegiatan nyata di setiap kecamatan dan desa. Dalam kegiatan ini pula para peserta menyampaikan komitmen untuk melaksanakan kegiatan yang dirancang dan terus berupaya melakukan edukasi pencegahan pernikahan dini.

Beberapa dosen jurusan Bimbingan dan Konseling, Jurusan Sastra Arab, dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang terlibat sebagai nara sumber. Dr. Muslihati. S.Ag. M.Pd sebagai kordinator tim nara sumber menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kerjasama antara Universitas Negeri Malang khususnya Fakultas Ilmu Pendidikan dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang telah lama terjalin dengan baik sebagai wujud kontribusi dunia akademik terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Malang.

Kegiatan ini ditutup oleh R. Ay. Sari Ratih Mala Dewi, SE, Kepala Bidang Perlindungan Anak DP3A Kabupaten Malang. Pada kesempatan tersebut Ibu Sari menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat diimplementasikan dan diperkuat lewat sinergi antara PKK se Kabupaten Malang dengan pihak DP3A. (Zen)