Category Archive : Pendidikan

Rektor UM : Era Teknologi Disruptif Butuh Inovasi Pembelajaran

MALANG ( Merdeka News ) : Era Teknologi Disruptif serta masa pandemi covid-19 sekarang ini membutuhkan inovasi di bidang pendidikan dan pembelajaran. Hal ini merupakan tantangan yang perlu diantisipasi dengan tepat oleh kalangan kampus.


Hal ini ditegaskan oleh Prof. Dr A.H. Rofi’uddin, M.Pd., Rektor Universitas Negeri Malang (UM) ketika membuka Konferensi Internasional ke-5 tentang inovasi belajar ICLI 2021, Kamis (29 Juli 2021).

International Conference on Learning Innovation ( ICLI) merupakan konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Malang, Indonesia, bekerja sama dengan Islamic Development Bank (IsDB) dan Indonesian Consortium for Learning Innovation Research (ICLIR).

Konferensi ICLI 2021 ini dirancang untuk para ahli pendidikan dan pembelajaran, termasuk para dosen dan guru.

Menurut Prof. Dr A.H. Rofi’uddin, M.Pd., pihak Universitas Negeri Malang atau UM, dalam hal ini Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Pembelajaran (LP3) UM telah berupaya mengantisipasi era modern ini. Kampus ini telah menyongsong hadirnya teknologi disruptif dengan pendekatan lintas disiplin keilmuan. UM juga menginisiasi center of excellence (CoE) for Learning Innovation, PUI-PT Disruptive Learning Innovation.

Konferensi ICLI 2021 ini, kata Prof. Dr A.H. Rofi’uddin, M.Pd., ada sejumlah tema menarik yang dibahas. Di antaranya yakni tema Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0, era pandemi Covid-19 serta Teknologi Disruptif. Semua tema tersebut membutuhkan inovasi di bidang pendidikan dan pembelajaran.


Dalam kaitan ini Rektor UM juga menyampaikan terimakasih kepada pembicara utama yakni Prof. Gavin Brown dari Selandia Baru, Prof. Stuart Kime dari Amerika Serikat, Prof. Weishen Wu, PhD dari Taiwan, Dr. Eng. Muhammad Ashar, S.T., M.T. dari Indonesia, Dr. Mohammad Fadhili Yahaya dari Malaysia, serta Dr. Rer. Nat. Suseno Amien dari Indonesia.

Pelaksanaan Konferenci ICLI 2021 ini berada di bawah kordinasi P2ISB (Pusat Pengembangan Inovasi dan Sumber Belajar), LP3 (Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran), Universitas Negeri Malang. Menurut Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph. D, Kepala P2ISB LP3 UM, Konferensi ICLI 2021 yang berlangsung secara daring (dalam jaringan) diikuti sekitar 140 orang peserta. Mereka berasal dari 4 negara yakni Indonesia, Malaysia, Taiwan serta Nigeria.


Sementara itu menurut Ketua Panitia Eli Hendrik Sanjaya, S.Si., M.Si.,Ph.D., dalam Konerensi ICLI tahun 2021 ini Universitas Negeri Malang sebagai penyelenggara bekerja sama dengan sejumlah pihak, di antaranya dengan The Islamic Development Bank (IsDB), Universitas Negeri Jember (UNEJ), Univesrsitas Mulawarman (UNMUL), dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), serta Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.


“Sejak mewabahnya virus corona (Covid-19), ada beberapa tantangan dalam pendidikan kita khususnya dalam penilaian dan evaluasi pembelajaran online. Penilaian harus cocok dan efektif diterapkan untuk pembelajaran online. Di sisi lain, dalam era pandemi ini, kita juga harus mempersiapkan siswa kita untuk menyongsong revolusi industri 4.0.,” tambah Eli Hendrik Sanjaya.

Menurut Eli Hendrik Sanjaya S.Si., M.Si.,Ph.D, tema ICLI 2021 yakni Meningkatkan Strategi Penilaian dan Evaluasi tentang Pembelajaran Online. Sejalan dengan tema besar ini, ikut terlibat beberapa pembicara yang memiliki keahlian dalam penilaian dan evaluasi pembelajaran online dari berbagai negara. Mereka berbagi pengetahuan dan penelitian yang dapat diterapkan pada proses belajar dan mengajar. (Zen)

Model Konseling Naratif Dikenalkan ke Guru BK SMA di Ponorogo

MALANG ( Merdeka News ) : Layanan konseling  seringkali dikatakan sebagai jantungnya bimbingan dan konseling di sekolah. Melalui layanan konseling diharapkan Guru Bimbingan dan Konseling (Guru BK) atau Konselor dapat membantu para siswa dalam mengatasi masalah yang sedang dialami. Baik terkait dengan masalah belajar, karir, pribadi ataupun masalah sosial.

“Saat ini ilmu tentang konseling telah mengalami kemajuan demikian pesat.  Di antaranya hadir pendekatan konseling post modern yaitu model konseling naratif. Model konseling naratif yakni layanan konseling meminta konseli atau siswa untuk menceritakan kehidupan yang diharapkan secara positif dan konstruktif. Dengan demikian siswa  diharapkan bisa  fokus terhadap apa yang ingin dicapai di waktu yang akan datang,” tutur Widya Multisari, S.Pd, M.Pd, dari Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Malang, Senin  (19 Juli 2021).

Menurut Widya Multisari, S.Pd, M.Pd, berdasarkan kajian penelitian terdahulu konseling naratif terbukti dapat membantu siswa  dalam pembentukan konsep diri. Selain itu juga bisa mereduksi kecemasan komunikasi, serta menurunkan gejala depresi. Model konseling naratif ini juga bisa mengurangi tingkat glossophobia atau gangguan kecemasan berbicara di depan umum.

Namun sebagian besar konselor SMA di Ponorogo masih memberikan layanan konseling dengan pendekatan tradisional atau modern. Belum menerapkan layanan konseling  postmodern, dengan pendekatan model konseling naratif.

Karena itulah Tim Pengabdian Masyarakat dari FIP Universitas Negeri Malang lantas memberi pelatihan kepada para guru BK SMA di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Tema pelatihan yakni Peningkatan Kompetensi Konselor Melalui Pelatihan Konseling Naratif bagi Guru BK SMA Kabupaten Ponorogo.Pelatihan diikuti oleh  30 orang guru BK SMA di Ponorogo. Diharapkan para Guru BK SMA di Ponorogo  menularkan hasil pelatihan tersebut  ke guru BK lainnya melalui forum MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling) SMA Kabupaten Ponorogo.

Dalam Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Malang, sebagai Ketua Pelaksana yakni Widya Multisari, S.Pd, M.Pd. Dengan anggota yakni Dr.Indriyana Rachmawati, M.Pd, Dr. Diniy Hidayaturrahman, M.Pd dan Dra. Ella Faridati Zen, keempatnya adalah dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP Universitas Negeri Malang.

Tujuan pelatihan yakni meningkatkan kompetensi  guru BK SMA di Ponorogo melalui pelatihan konseling naratif.  Peserta pelatihan diharapkan mampu menelaah konsep dasar konseling naratif, serta  menelaah teknik dan tahapan konseling naratif. Selain itu peserta pelatihan mampu mengimplementasikan penyusunan skenario dan verbatim konseling naratif.

Pelatihan dilaksanakan selama 2 minggu. Karena masa pandemi maka dilaksanakan secara daring (dalam jaringan), dengan pola sinkron dan asinkron.

Pelatihan menghadirkan narasumber  Muhammad Muhajirin,M.Pd, Dosen Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Menurut Muhammad Muhajirin, konseling naratif  merupakan teknik konseling yang didasarkan pada pemikiran bahwa pengalaman hidup konseli atau siswa secara internal, dapat diatur dalam cerita atau narasi.

Dalam paradigma baru,  konseling tidak lagi dipandang sebagai upaya memecahkan masalah. Sedangkan model konseling naratif termasuk dalam paradigma baru ini.

 “Konseling lebih memberdayakan keberagaman individu,  keluarga dan kelompok, dalam mencapai  kesehatan mental atau kesejahteraan, pendidikan dan karier, sehingga mencakup seluruh aspek kehidupan” tambah Muhammad Muhajirin M.Pd. 

Sementara Ismadi, MPd,  Ketua MGBK SMA Kabupaten Ponorogo,  dalam sambutannya mengharapkan para peserta hendaknya serius dalam mengikuti pelatihan, sehingga bisa menguasai dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya dalam setahun ke depan diharapkan konseling naratif ini diimplementasikan dalam melayani para siswa.

Ismadi juga berharap pelatihan ini bisa dilanjutkan dengan pelatihan-pelatihan yang lain, misalnya pelatihan pengembangan media. Saat ini para konselor membutuhkan pelatihan dalam pengembangan media, terlebih di masa pandemik  di mana aktivitas pembelajaran dilaksanakan secara online. Diharap Tim Abdimas dari UM berkenan memberikan pelatihan pengembangan Media bagi para konselor di kabupaten Ponorogo.

Pelatihan konseling Naratif disamping diikuti oleh para Konselor SMA Kabupaten Ponorogo, juga diikuti oleh sejumlah Konselor Pusat Pengembangan Konseling Karier dan Kompetensi Akademik (P2BK3A), LP3, Universitas Negeri Malang (UM). Sebab Ketua Pelaksana yakni Widya Multisari, S.Pd, M.Pd. selain dosen di Jurusan Bimbingan dan Konseling UM, juga dosen konselor di P2BK3A), LP3, UM. (Zen)    

Bangkitkan Potensi Inovasi Mahasiswa, BRI Gelar Creation Scholarship

JAKARTA ( Merdeka News ) : Masa depan bangsa ditentukan dari kualitas generasi penerusnya, sehingga dunia pendidikan yang menjadi tempat mencetak generasi penerus bangsa perlu untuk terus didukung. Salah satunya yang dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama dalam meningkatkan taraf pendidikan masyarakat Indonesia, melalui program beasiswa ‘BRI Peduli – Creation (Creative In Action) Scholarship’.

BRI Peduli – Creation (Creative In Action) Scholarship merupakan bentuk apresiasi kepada mahasiswa yang memiliki inovasi, ide, terobosan baru yang kreatif dan unggul dengan apresiasi berupa bantuan uang saku selama pengembangan inovasi dan juga beasiswa untuk kuliah. Program ini ditujukan untuk memfasilitasi potensi yang dimiliki mahasiswa Indonesia. Potensi untuk mengkaji, mengembangkan dan menerapkan ilmu serta teknologi yang telah didapat atau telah dipelajari selama perkuliahan kepada masyarakat umum.

Bagi mahasiswa yang berminat, syarat untuk mengikuti program ini cukup mudah. Program ini menganut sistem kelompok, peserta program Creation (Creative In Action) Scholarship bisa diikuti mahasiswa Strata 1 (S1) yang tergabung dalam Tim. Dalam 1 tim bisa terdiri dari 3 peserta mahasiswa. Tim akan mengajukan inovasi, ide, terobosan baru yang kreatif yang disusun menjadi Proposal.

Terdapat beberapa persyaratan umum proposal inovasi, ide, terobosan baru yang kreatif, yang perlu diperhatikan. Pertama, inovasi, ide, terobosan baru yang kreatif dibatasi dan diutamakan yang memiliki nilai unggul, kekinian, dan mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Kedua, inovasi, ide, terobosan baru yang kreatif yang dapat mendukung pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Ketiga, inovasi, ide, terobosan baru yang kreatif yang telah teruji, dapat diaplikasikan dan diimplementasikan. Kategori dalam program ini dapat dipilih sesuai dengan minat para mahasiswa, diantaranya:

  1. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Technology Creation)

Kategori yang membahas tentang ilmu pengetahuan dan teknologi kekinian dan bermanfaat untuk pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, syarat khusus kategori ini adalah Teknologi/Program sedang dalam pengembangan, telah memiliki target utama/lokasi/masyarakat untuk diimplementasikan, dan telah memiliki tujuan penggunaan teknologi.

  1. Kewirausahaan (Entrepreneur Creation)

Kategori ini bertujuan untuk menjaring keterampilan bisnis mahasiswa yang bertujuan pada profit untuk sosial dan ekonomi, syarat khusus kategori ini yakni termasuk dalam usaha Mikro dan Kecil, telah berjalan selama 1 Bulan, dan telah memiliki omset/pendapatan.

  1. Pengabdian Masyarakat (Social Creation)

Kategori ini bertujuan untuk mendapatkan penerapan kegiatan/proyek yang memberikan solusi yang tepat pada kelompok/komunitas/masyarakat, kegiatan/proyek adalah solusi yang tepat bagi persoalan di masyarakat luas. Syarat khusus kategori ini yakni telah memiliki target utama/lokasi/kelompok/komunitas/masyarakat untuk diimplementasikan, dan sudah berjalan selama 1-3 Bulan.

Di tahun pertama, mahasiswa yang dapat mengikuti program Creation (Creative In Action) Scholarship adalah yang berasal dari Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjajaran, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Brawijaya.

Tentu buah inovasi para mahasiswa akan mendapat apresiasi. BRI akan menetapkan peserta yang terpilih berhak mendapatkan apresiasi untuk menjalankan Inovasi Program senilai Rp 30 juta bagi masing-masing tim.

Kemudian, beasiswa untuk menjalani kuliah di masing-masing Universitas dengan maksimal anggaran setiap mahasiswa mendapatkan bantuan dana pendidikan kuliah sebesar Rp 8 juta per mahasiswa maksimal sampai dengan semester 8.

Tidak hanya itu, setiap mahasiswa mendapatkan bantuan biaya sebesar Rp 500 ribu per orang maksimal sampai dengan 42 Bulan. Selain itu juga akan ada, annual gathering SuperCamp yaitu pelatihan softskill dan kepemimpinan bagi mahasiswa terpilih.

Penawaran menarik ini dapat digunakan oleh para mahasiswa Indonesia untuk mengembangkan diri dan menerapkan ilmu yang didapat sekaligus memperoleh reward. Para mahasiswa dapat mulai melakukan pendaftaran yang dibuka mulai 19 Juli hingga 31 Agustus 2021 dengan mengakses tautan bri.co.id/bripedulicreation. (Tnp)

Dr Arbin Janu: Konselor Perlu Kembangkan BK Online Yang Menarik

MALANG ( Merdeka News ) : Pada masa pandemi sekarang ini sektor pendidikan di Indonesia memiliki wajah dan sistem baru yaitu pembelajaran secara daring (dalam jaringan). Pembelajaran daring dianggap sebagai solusi yang terbaik untuk mencegah penyebaran covid-19 pada dunia pendidikan.

“Pembelajaran merupakan sebuah hubungan interaksi dan transfer ilmu antara siswa dan guru, termasuk dalam hal ini adalah layanan Bimbingan Konseling (BK) di sekolah. Tujuan utama layanan BK di sekolah adalah memfasilitasi perkembangan optimal setiap siswa. Pelayanan BK berbasis e-learning menjadi sebuah pilihan di masa pandemi ini. Namun ada kendala utama, dalam penerapan pelayanan BK secara daring. Sebab proses layanan tidak dilakukan secara tatap muka langsung di ruang kelas. Selain itu siswa kadang kurang siap untuk mengikuti layanan BK secara daring,” tutur Dr. Arbin Janu, M.Pd, dari Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Malang, dalam keterangannya kemarin.


Menurut Arbin Janu, Selama masa pandemi ini, pelaksanaan layanan BK tidak mungkin lagi disajikan sama seperti dengan masa sebelum pandemi. Konselor diharapkan lebih adaptif dalam melaksanakan program BK. Salah satunya adalah lebih memfokuskan pada bagaimana membangun kesadaran siswa dan memperkuat pengetahuan mereka terkait pandemi covid 19 ini dan juga mengenai penguatan aspek pribadi, sosial, belajar dan karier siswa selama masa pandemi.

Materi pelayanan BK, tambah Dr. Arbin Janu, perlu disesuaikan dengan konteks situasi yang tengah dihadapi saat ini. Selain itu, peran seorang konselor dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan teknologi informasi. Dengan pemanfaatan teknologi tersebut, konselor bisa menemukan strategi dan media layanan BK yang lebih menarik dan tidak membosankan, juga dapat diterima oleh siswa sehingga hasil dari layanan BK bisa sesuai harapan.

“Pemanfaatan teknologi dalam layanan BK di antaranya dengan mengembangkan media BK misalnya berupa video yang mengintegrasikan suara, gambar dan simbol. Dengan penyajian secara visual, akan sangat mudah dipahami oleh siswa. Tentunya media BK yang dibuat haruslah menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa itu sendiri,” tegas Dr. Arbin Janu yang juga Sekretaris Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang.


Karena itulah Tim Pengabdian Masyarakat dari FIP Universitas Negeri Malang lantas memberi pendampingan kepada para guru BK atau konselor SMP Negeri 4 Kota Malang dalam pengembangan dan implementasi program BK online. Kegiatan pendanpingan meliputi beberapa tahap yaitu: 1) workshop pengembangan instrumen need assessment; 2) workshop pengembangan program BK berdasarkan hasil analisis kebutuhan siswa; 3) workshop penyusunan RPL dan media BK online; 4) workshop penyiapan kelas virtual untuk pemberian layanan BK; 5) implementasi program BK online; dan 6) monitoring dan evaluasi pelaksanan program BK online.

Pelaksanaan kegiatan workshop pengembangan dan implementasi program BK online berjalan seperti yang diharapkan. Peserta workshop yaitu konselor SMP Negeri 4 sangat antusias dan berperan aktif dalam kegiatan workshop dari awal sampai akhir. Kegiatan workshop dimulai dari bagaimana mengembangkan instrumen need assessment yang betul-betul sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa khususnya selama masa pandemi. Pada sesi ini konselor diajak untuk mengembangkan kisi-kisi instrumen need assessment untuk kelas 7, 8 dan 9; dengan memperhatikan SKKPD dan juga situasi pembelajaran daring.

“Setelah kisi-kisi dikembangkan, konselor bersama tim pengabdian menyusun item-item pernyataan instrumen yang mencakup bidang pribadi, sosial, belajar dan karier. Instrumen yang sudah dikembangkan kemudian direview bersama-sama,” tegas Arbin Janu.

Pada workshop sesi kedua, kegiatan difokuskan pada analisis hasil isian instrumen need assessment oleh siswa. Pada sesi ini, tim pengabdian mendampingi konselor untuk melakukan analisis secara efisien untuk setiap jenjang kelas. Analisis hasil isian instrumen need assessment dikerjakan dalam bantuan excel agar memudahkan dalam pentabulasiannya.

Saat workshop sesi ketiga kegiatan difokuskan pada penyusunan RPL BK dan media BK. RPL BK yang disusun mengacu pada format RPL BK di POP program BK di SMP. RPL BK yang disusun meliputi RPL bimbingan dan RPL konseling. Untuk RPL bimbingan yang disusun, mencakup bidang pribadi, sosial, belajar dan karier. Dari setiap jenjang kelas, dihasilkan 4 contoh RPL bimbingan dari 4 bidang bimbingan dan 1 RPL konseling. RPL BK yang sudah berhasil disusun dijadikan dasar untuk mengembangkan media BK yang relevan.

Ketika workshop sesi keempat, kegiatan difokuskan pada penyiapan kelas virtual yang akan digunakan untuk memberikan layanan BK secara daring. Pada tahap ini tim pengabdian Bersama konselor mengidentifikasi ragam platform yang menyediakan fasilitas kelas virtual dan aplikasi sosial media yang memungkinkan untuk digunakan sebagai sarana pemberian layanan BK secara daring. Dalam penentuan platform pembelajaran dan aplikasi sosial media yang digunakan dalam layanan BK secara daring ini juga disesuaikan dengan karaktesistik dan kemampuan siswa SMP Negeri 4, khususnya akses siswa terhadap perangkat dan ketersediaan kuota serta jaringan internetnya.

“Pada tahap ini berhasil ditentukan platform dan aplikasi sosial media yang digunakan untuk layanan BK secara daring yaitu google meet, zoom, google classroom, Instagram, dan whatsapp. Setelah itu dibahas mengenai format kelas virtual dan penentuan konten layanan BK yang akan diisikan dalam platform dan aplikasi tersebut,” tambah Dr. Arbin Janu Setiyowati.

Dalam Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Malang, sebagai Ketua Pelaksana yakni Dr. Arbin Janu Setiyowati, M.Pd. Dengan anggota yakni Devy Probowati, M.Pd, serta Rizka Apriani, M.Pd., ketiganya adalah dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP Universitas Negeri Malang. (Zen)

Qwords Luncurkan Server Sekolah Online

SURABAYA ( Merdeka News ) : Kegiatan belajar mengajar secara daring mungkin sudah bukan menjadi hal yang baru, mengingat telah diterapkan di Indonesia selama lebih dari 1,5 tahun. Namun, dalam prakteknya sistem ini dirasa belum sepenuhnya memfasilitasi kebutuhan belajar mengajar yang baik bagi para murid dan tenaga pengajar. Selain masalah koneksi internet, dijumpai permasalahan lain yang tidak kalah krusial seperti kendala distribusi & penilaian tugas, fasilitas ujian online bersama, hingga keterbatasan jumlah kapasitas peserta pada platform yang digunakan.

Berangkat dari situlah Qwords Cloud Web Hosting berupaya menjadi solusi bagi kebutuhan sekolah online dan institusi pendidikan lainnya agar dapat menjalankan kegiatan pendidikan dengan menyediakan layanan Server Sekolah Online.

Dengan memiliki sebuah website, sekolah/institusi pendidikan dapat melakukan banyak hal dalam satu platform. Mulai dari live streaming kegiatan belajar, mengirimkan tugas, memberi penilaian, mengunggah pengumuman, membuat jadwal ujian, dsb.

Website yang memadai harus didukung pula dengan infrastruktur yang baik. Karena itulah Qwords menyediakan server khusus untuk Sekolah Online. Pemanfaatannya tentu sangat beragam. Mulai dari e-learning, ujian sekolah, administrasi sekolah, komunikasi antara pengajar dan wali murid, PPDB online, dsb.

Server Sekolah Online dari Qwords telah didesain khusus untuk kegiatan e-learning. Terbukti dari dukungan MOODLE (Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment) yakni platform yang digunakan untuk menunjang sistem manajemen pembelajaran secara online.

Platform ini mempermudah tenaga pengajar untuk mencari dan mengatur materi pembelajaran untuk siswa. Selain itu, waktu pembelajaran jadi lebih efisien karena dapat diakses di mana saja dan kapan saja.

Buat website sekolah online sekarang dengan Server Sekolah Online dari Qwords. Kebutuhan pendidikan online dalam 1 platform. (Nng)

Dr Muslihati: Guru BK Harus Kreatif dan Produktif

MALANG ( Merdeka News ) : Menurut rencana Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah, bakal dilaksanakan mulai semester depan atau sekitar pertengahan Juli 2021. Karena itu para siswa dan para guru ( termasuk Guru Bimbingan Konseling atau Guru BK) perlu mempersiapkan diri secara fisik maupun psikis dalam mengikuti PTM.


“Dalam kaitan ini perlu penyiapan secara psikologis bagi para guru, termasuk guru BK, serta siswa dalam menyongsong diberlakukannya pembelajaran tatap muka. Persiapan bagi Guru BK dapat diawali dengan adanya niat dan positif thinking bahwa profesi guru merupakan tugas mulia. Dengan adanya niat baik ini Allah SWT akan menjaga,” tutur Dr Muslihati,Sag,M.Pd dalam Webinar Penguatan Kesiapan Guru Bimbingan dan Konseling (BK) Menyambut Pembelajaran Tatap Muka, belum lama ini.


Webinar diselenggarakan oleh MGBK ( Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling ) SMP Kabupaten Malang Jawa Timur.


Menurut Dr. Muslihati yang juga Ketua Jurusan (Kajur) Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (FIP UM), selain punya niat baik serta selalu positif thinking, para guru Bimbingan Konseling juga harus ikhtiar untuk disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan. Selain itu juga perlu menjaga agar kondisi fisik maupun psikologis kita untuk tetap sehat.


“Guru BK juga harus kreatif dan produktif dalam menghadapi perubahan, siap berkolaborasi dengan guru mata pelajaran maupun orang tua dalam rangka membimbing siswa. Ikhtiar yang telah dilakukan diikuti dengan doa dan tawakkal, menguatkan keimanan dengan doa dan berserah diri pada Allah SWT,” tambah Dr. Muslihati.


Adapun program adaptasi bagi para siswa dalam menghadapi pembelajaran tatap muka, menurut Muslihati meliputi penguatan pemahaman mengenai hakikat manusia. Para siswa perlu menyadari dirinya sebagai manausia yang diciptakan sebagai representasi Keagungan Tuhan YME, bertanggungjawab dalam memakmurkan bumi dan beribadah.


“Program lain yang dikembangkan yaitu penyadaran potensi positif dan potensi negatif, serta melatih cara belajar yang efektif. Selain itu juga perlu mencari sumber belajar serta melatih pengendalian dan pengelolaan diri,” tegas Dr Muslihati,Sag,M.Pd, Kajur Bimbingan dan Konseling, FIP, Universitas Negeri Malang. (Zen)

Sekretaris LP3 UM: Harmonis Dengan Lingkungan, Mental Jadi Sehat

MALANG ( Merdeka News ) : Kesehatan mental menjadi isu penting untuk diperbincangkan, terlebih saat pandemic covid 19 yang hingga sekarang masih melanda negara kita. Bagi para mahasiswa, munculnya perasaan khawatir sakit terkena virus, takut kehilangan keluarga yang dicintai, aktivitas belajar dirumah yang penuh keterbatasan, tugas-tugas kuliah yang menumpuk, menimbulkan kegalauan, stress, kecemasan bahkan mungkin bisa berkembang menjadi depresi.


Demikian ditegaskan oleh Dr. Hardika,M.Pd, Sekretaris Lembaga Pengembangana Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) Universitas Negeri Malang (UM), saat membuka Seminar Dalam Jaringan (Sedaring) Self Love : Strategi Menjaga Kesehatan Mental, Senin (28 Juni 2021).


“Hadirnya pandemi covid 19 bukan satu-satunya faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan mental seorang mahasiswa. Masih banyak faktor yang lain, seperti kecukupan sarana belajar atau lingkungan sekitar, juga memiliki pengaruh kepada kesehatan mental seseorang,” tambah Dr. Hardika, M.Pd.


Menurut Sekretaris LP3 UM tersebut, ada sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi kesehatan mental mahasiswa. Di antaranya penampilan fisik yang tidak sesuai dengan harapan, interaksi sosial antara mahasiswa dengan dosen, interaksi mahasiswa dengan tenaga kependidikan serta interaksi antar sesama mahasiswa juga berpotensi munculnya ketidaknyamanan diri yang berarti mengganggu kesehatan mental.


Di sinilah pentingnya mencintai diri sendiri atau Self Love. Karena itu sedaring bertema Self Love : Strategi Menjaga Kesehatan Mental ini sangat penting diikuti para mahasiswa, sehingga tetap bisa bersikap positif dalam kondisi apapun, agar mental kita selalu sehat.


Ditegaskan oleh Dr. Hardika, M.Pd., mencintai diri sendiri bukan berati mengutamakan diri sendiri. Self Love dapat dimaknai sebagai mengelola diri, yang tentu terkait dengan interaksi dengan orang lain.
“Interaksi yang harmonis dengan lingkungan akan membawa kedamaian dan kenyamanan dalam hidup, sehingga terwujudlah kondisi mental yang sehat,” tambah Dr. Hardika,M.Pd, Sekretaris LP3 Universitas Negeri Malang.


Kegiatan Sedaring Self Love : Strategi Menjaga Kesehatan Mental ini diselenggarakan oleh P2BK3A (Pusat Pengembangan Bimbingan Konseling Karier dan Kompetensi Akademik), LP3 UM. Kegiatan diikuti ratusan mahasiswa dari 8 fakultas di Universitas Negeri Malang, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Sastra, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Sosial, serta Fakultas Pendidikan Psikologi.

Menurut Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd, Kepala P2BK3A, LP3 UM, seminar daring kali ini merupakan salah satu program P2BK3A, LP3 Universitas Negeri Malang. Pesertanya yakni para mahasiswa UM yang mendaftarkan diri untuk mengikuiti seminar daring. Dengan mengikuti seminar daring ini diharapkan mahasiswa dapat menjaga kesehatan mental untuk menjalankan kehidupannya secara optimal di berbagai situasi dan kondisi.


Materi seminar disampaikan oleh para pakar di bidangnya yakni para Psikolog dan Dosen Psikologi. Narasumber yang tampil yakni Nanin Aritrana,SE.,S.Psi.,M.Psi.,Psikolog,CH., CHt. Psikolog dan Direktur Rumah Sehat Psikologi Invira Humania membawakan topik Mengembangkan Self Love, Phebe Illenia Suryadinata, M.Psi.,CHA.,Psikolog, berprofesi sebagai Psikolog di ASA Psychological Services dengan topik Mengatasi Insecure, serta Gamma Rahmita Ureka Hakim, S.Psi,M.Psi, Dosen Fakultas Psikologi,Universitas Negeri Malang membawakan topik Menghadapi Toxic Positivity Untuk Mengembangkan Self Love. (MZ)

Nadiem: Sekolah Diberi Opsi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

JAKARTA ( Merdeka News ) : Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas,menyesuaikan dengan kebijakan peraturan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro. Demikian Menteri Pendidikan Kebudayan Riset dan Teknologi,Nadiem Anwar Makarim di Jakarta, kemarin.

Itu semua sesuai denga Surat Keputusan Menteri Pendidikan Kebudayan Riset dan Teknologi, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Kesehatan, telah menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri.

“Pada tahun ajaran baru 2021-2022 yang jatuh pada Juli ini, sekolah diberikan opsi untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas untuk menghindari
dampak-dampak negatif berkelanjutan pada peserta didik,” ujarnya.

Mengamati situasi melonjaknya kasus COVID-19 dan penebalan peraturan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), SKB Empat Menteri tersebut diperkuat dengan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2021, yang menyebutkan daerah zona hijau, kuning, dan jingga, dapat menerapkan pembelajaran PTM Terbatas, sementara zona merah wajib menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring.

Direktur SD Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd menegaskan jika PTM Terbatas perlu dipersiapkan dengan matang oleh pihak sekolah dan juga disokong orang tua murid serta lingkungan di sekitarnya.

“PTM Terbatas bisa digelar dengan syarat daerah yang menggelar PTM Terbatas bukan zona merah,” terang Sri Wahyuningsih. (Krj)

Akibat Pandemi Pola Belajar Siswa Berubah Luar Biasa

MALANG ( Merdeka News ) : Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah paska  masa pandemi covid 19,  rencananya akan dilaksanakan mulai bulan Juli 2021. Karena itu guru maupun siswa perlu mempersiapkan diri secara fisik maupun psikis dalam mengikuti pembelajaran tatap muka tersebut.

“Selama pandemi covid 19 di mana siswa belajar dari rumah, membawa perubahan yang luar biasa terhadap pola belajar siswa. Gejala yang tampak pada siswa menunjukkan adanya kecenderungan  kurang  menguasai materi pelajaran, serta kurang sumber belajar,” tutur Dr Muslihati,Sag,M.Pd dalam Webinar Penguatan Kesiapan Guru Bimbingan dan Konseling (BK) Menyambut Pembelajaran Tatap Muka, Rabu, 23 Juni 2021.

Webinar diselenggarakan oleh MGBK ( Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling ) SMP Kabupaaten Malang Jawa Timur.

Menurut Dr Muslihati yang juga Ketua Jurusan (Kajur) Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (FIP UM), selain ada kecenderungan siswa kurang menguasai materi dan kurang sumber belajar, mereka juga cenderung menurun motivasi belajarnya.

“Akibat lama tinggal di rumah ketika masa pandemi, para siswa juga punya kecenderungan kurang bertanggungjawab serta kurang disiplin. Di antara mereka bisa jadi ada yang terlena dengan gadged bahkan mengalami adiksi gadget,” tambah Dr Muslihati,Sag,M.Pd.

Sementara itu, menurut Ella Faridati Zen,M.Pd sebagai pemateri berikutnya menyatakan program adaptasi PTM bagi para siswa dapat dilaksanakan melalui strategi bimbingan klasikal. Para Guru BK diharap dapat membuat rancangan program dengan memperhatikan karakteristik dan keunikan para siswa.

Ella Faridati Zen adalah Dosen di Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP UM, yang saat ini mendapat amanah sebagai Kepala Pusat Pengembangan Bimbingan Konseling Karier dan Kompetensi Akademik (P2BK3A) Universitas Negeri Malang.

“Rancangan program yang dibuat para guru BK tersebut selain memperhatikan karakteristik dan keunikan siswa, juga sebaiknya sesuai dengan konteks kekinian. Orientasinya juga berpusat pada siswa, untuk mengembangkan kemandirian siswa serta berbasis pada teknologi informasi,” tambah Ella Faridati Zen, M.Pd.

Dalam kesempatan yang sama, Sriyono SPd,MPd, Ketua MKKS SMP Kabupaten Malang, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Guru BK hendaknya bisa mengoptimalkan perannya sebagai konselor. Laksanakan kegiatan yang bisa menjadi daya tarik bagi para siswa, sehingga siswa tidak lagi takut dengan konselor.

“Dengan demikian siswa merasa nyaman saat berinteraksi dengan guru BK dan manakala mereka mempunyai masalah, maka dengan sukarela mendatangi konselor untuk mendapatkan bantuan pemecahan,” lanjut Sriyono S.Pd, M.Pd.

Sementara itu Lulus Puji Lestari, S.Pd Ketua Panitia Webinar dan juga Ketua MGBK SMP Kabupaten Malang menyampaikan bahwa seminar diikuti oleh Guru BK SMP dan Guru MTs di Kabupaten dan Kota Malang, sekirat 100 peserta.

Webinar dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan Guru BK dalam beradaptasi pelaksanaan PTM paska  pandemi covid 19. Diharapkan para Guru BK mempunyai kesiapan yang memadai dalam menyongsong PTM bulan Juli Mendatang. (Zen)

Muhammadiyah Tolak PPN Pendidikan

YOGYAKARTA ( Merdeka News ) : Banyak draf Rancangan Undang-Undang Revisi UU No 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang dinilai tidak sesuai dengan Konstitusi dan Pancasila. Karenanya, Muhammadiyah menolak dan sangat berkeberatan atas rencana penerapan PPN untuk bidang pendidikan. Muhammadiyah menyatakan, kebijakan pajak atau PPN Pendidikan sangat tidak sesuai dengan Konstitusi dan Pancasila. Karena itu tidak boleh diteruskan rancangan tersebut.

Siaran pers Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir disampaikan pada media Jumat (11/06/2021) malam. Menurutnya, kebijakan pajak atau PPN bidang pendidikan jelas bertentangan dengan konstitusi dan tidak boleh diteruskan.

Terus terang Haedar mempertanyakan, apakah Indonesia akan semakin dibawa pada liberalisme ekonomi yang mencerabut Pancasila dan nilai-nilai kebersamaan yang hidup di Indonesia? “Masalah ini agar direnungkan secara mendalam oleh para elite di pemerintahan,” ucap Haedar. Karena mestinya pemerintah yang harus paling bertanggungjawab dan berkewajiban dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk penyediaan anggaran 20%.

Untuk itu Ketum PP Muhammadiyah ini mengajak para perumus konsep kebijakan dan pengambil kebijakan di Republik ini menghayati, memahami, dan membumi dalam realitas kebudayaan Bangsa Indonesia. Jangan bawa Indonesia ini menjadi semakin menganut rezim ideologi liberalisme dan kapitalisme yang bertentangan dengan konstitusi, Pancasila, dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

“Selama ini sejatinya ormas keagamaan seperti Muhammadiyah, NU, Kristen, Katholik, dan sebagainya justru meringankan beban dan membantu pemerintah. Mestinya justru diberi reward atau penghargaan. Bukan malah ditindak dan dibebani pajak yang pasti memberatkan,” tandas Haedar Nashir.

Haedar secara detail menjelaskan, rencana penerapan PPN bidang pendidikan tersebut jelas-jelas bertentangan dengan jiwa konstitusi UUD 1945 Pasal 31 Pendidikan dan Kebudayaan. Pasal tersebut mengandung perintah (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dan (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Juga (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Semestinya tandas Haedar Nashir, pemerintahlah yang berkewajiban penuh menyelenggaran pendidikan dan kebudayaan bagi seluruh rakyat sebagaimana perintah konstitusi. Jika tidak menunaikannya secara optimal sama dengan mengabaikan konstitusi. Karena itu sejatinya Pemerintah perlu berterimakasih kepada ormas penyelenggara pendidikan yang selama ini membantu meringankan beban kewajiban pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan dan program kerakyatan lainnya, bukan malah membebani dengan PPN.

“Pemerintah, termasuk Kemenkeu, dan DPR mestinya mendukung dan member kemudahan bagi organisasi kemasyarakatan yang menyelenggarakan pendidikan secara sukarela dan berdasarkan semangat pengabdian untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” jelas Haedar.

Tidak Memberatkan

Pemerintah dan DPR lanjut Ketum PP Muhammadiyah, mestinya tidak memberatkan organisasi kemasyarakatan penggerak pendidikan dan lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola masyarakat dengan perpajakan. Apa yang dilakukan ini justru hanya akan mematikan lembaga-lembaga pendidikan yang selama ini banyak membantu rakyat kecil. Padahal selama ini, lanjut Guru Besar UMY, Lembaga tersebut sebenarnya ikut meringankan beban pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan yang belum sepenuhnya merata.

“Para anggota DPR dan elite partai politik agar menunjukkan komitmen kebangsaan yang tinggi dengan bersatu menolak draf PPN di bidang pendidikan tersebut sebagai wujud komitmen pada Pancasila, UUD 1945, nilai-nilai luhur bangsa, persatuan, dan masa depan pendidikan Indonesia. Lupakan polarisasi politik dan kepentingan politik lainnya demi menyelamatkan pendidikan Indonesia yang saat ini sarat beban, sekaligus menyelematkan Indonesia dari ideologi liberalisme dan kapitalisme yang mendistorsi konstitusi, Pancasila dan nilai luhur keindonesiaan,” kata Haedar. (Kr)