Category Archive : Tokoh Kita

Febri Asisten Manajer Yang Egergik dan Ramah

MALANG ( Merdeka News ) : Usianya masih relatif muda yakni  baru 25 tahun, namun jabatannya sudah asisten manajer. Itulah Febrianto Simanullang SKM, asisten manajer Superindo Tlogomas Malang Jawa Timur, seorang figur generasi muda yang sangat energik dan ramah.

“Saya sudah beberapa tahun berkarir di Superindo. Awalnya di Superindo Bogor, kemudian pernah di Superindo Surabaya setelah itu pindah ke Malang. Berkarir di Superindo Malang ini hampir setahun,” tutur Febrianto Simanullang yang alumnus Universitas Diponegoro Semarang, saat berbincang dengan Merdeka News, Senin (16 November 2020).

Febri setelah lulus dari Prodi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Undip Semarang tahun 2017, sebetulnya pernah berkarir beberapa bulan di sebuah rumah sakit di Semarang. Di rumah sakit tersebut pria yang masih lajang ini ikut bergabung di manajemennya.

“Setelah pernah bergabung di manajemen rumah sakit selama sekitar 3 bulan, baru saya ke Superindo. Saya ke Superindo karena tertantang untuk mengaplikasikan manajemen murni,” tambah Febrianto.

Menurutnya, Superindo merupakan salah satu bisnis yang dekat dengan masyarakat. Karena itulah di saat kondisi pandemi, saat banyak lembaga bisnis yang mulai surut, justru Superindo semakin maju dan laris.

“Ya memang dekat dengan masyarakat itulah ciri khas Superindo. Dan itulah yang saya sukai dari Superindo,” tambah Febrianto yang meski bodinya besar tapi tetap lincah. ( Zen )

Prof Andi Mappiare Luncurkan Model Konseling Khas Nusantara

MALANG ( Merdeka News ) : Model konseling yang dipakai di Indonesia selama ini, lebih condong konseling dengan sistem Barat. Hal ini karena ilmu konseling yang dipakai oleh para konselor, memang lebih banyak berdasarkan buku-buku ilmuwan Barat.

Kondisi ini sempat mencemaskan Prof. Dr Andi Mappiare MT, M.Pd, Guru Besar Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Sebab jika konseling yang dikembangkan kepada para siswa dan mahasiswa di Indonesia adalah konseling model Barat, seringkali terjadi “kesenjangan budaya” sehingga kurang tepat sasaran.

Karena itulah Prof Andi lantas melakukan kajian mendalam, terkait model atau pola konseling yang tepat untuk siswa dan mahasiswa di Indonesia. Akhirnya Guru Besar yang peramah itu kemudian meluncurkan sebuah model konseling yang khas Nusantara, yakni model konseling KIPAS.

Konseling KIPAS yakni konseling yang  berdasarkan  pada 5 tema pembahasan konseling yang meliputi karakter, identitas, pekerjaan (karier), akademik serta sosial. Selain itu KIPAS juga bisa sebagai akronim dari tahapan pelaksanaan konseling yakni memberi kabar gembira ke klien, integrasi data dan internalisasi, perencanaan tindakan, aktualisasi rencana tindakan ke klien, serta selebrasi atau pemberian sertifikat setelah klien sukses mengembangkan potensi diri.

Menurut Prof  Dr Andi Mappiare,  model konseling yang banyak dipakai di sekolah atau di kampus selama ini adalah konseling produk Barat.  Hasilnya kurang memuaskan, karena  kondisi sosial budaya di Indonesia memang berbeda dengan kondisi sosial budaya di Barat.

Konseling model Barat jika diterapkan di negara-negara Barat, bisa jadi hasilnya memuaskan. Namun terasa kurang tepat sasaran jika diterapkan pada siswa atau mahasiswa di Indonesia.Karena itulah Prof Andi kemudian menyodorkan alternatif konseling model KIPAS yang sesuai dengan sosial budaya dan karakter khas Nusantara.

“Ciri pribadi siswa atau mahasiswa di Indonesia adalah berbeda dengan ciri pribadi siswa atau mahasiswa di negara-negara Barat. Pada intinya, para siswa atau mahasiswa di Indonesia ingin diperlakukan secara bebas dan aman. Konseli atau klien tidak ingin terlampau dihakimi atau disalah-salahkan. Senegatif apapun perilakunya, mereka tidak menyukai label-label yang mempermalukan atau merendahkan diri mereka dari Konselor atau Guru BK,” tutur  Prof Andi bersemangat.

Latihan Konseling Kipas di P2BK3A LP3 UM

Dalam melaksanakan konseling model KIPAS, maka konselor lebih mengutamakan informasi positif atau hal-hal positif mengenai konseli atau klien. Konselor menghindari mengungkap aib klien, tetapi justru mencari sisi positif atau sisi kelebihan klien yang bisa dikembangkan ke arah yang lebih baik. Tujuannya membantu klien mencapai harapan hidup dan meraih cita cita di masa depan. (Zen)     

Ratu Dangdut Elvy Sukaesih Pasca Positif Covid-19

JAKARTA ( Merdeka News ) : Ratu Dangdut Indonesia, Elvy Sukaesih positif menderita Covid-19. Informasi ini diketahui dari pernyataan sang putri, Fitria di akun Instagram pribadinya.

Fitria mengungkapkan bahwa ibunya sudah sakit sejak tanggal 17 Agustus 2020. Saat itu, Elvy Sukaesih langsung berobat ke rumah sakit.

Menurut Fitria, Elvy tak mengalami sesak nafas maupun gejala apapun. Tetapi, Elvy terlihat lemas dan tak mampu mencium bau apapun.

Namun demikian, menjalani swab tes dan pemeriksaan lainnya, Elvy Sukaesih dinyatakan positif Covid-19 oleh tim dokter.

Alhasil, Elvy harus menjalani isolasi dan perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Bintaro. Elvy bahkan sempat masuk ICU.

“Kita bawa ke rumah sakit, swab, dan ternyata hasilnya Umi adalah positif (Covid-19),” ungkap Fitria di Instagram pribadi-nya, Sabtu (19/9/2020).

Fitria pun sempat panik, mengingat usia sang bunda sudah hampir 70 tahun.

Seluruh anggota keluarga Elvy pun langsung menjalani tes swab. Beruntung, seluruh hasilnya negatif Covid-19.

Sekarang Elvy dikabarkan sudah sehat dan bisa beraktivitas seperti sedia kala.

“Alhamdulillah, hari ini, malam ini adalah malam ke 11, Umi Elvy, yang kita cintai kembali berada di rumah saya. Setelah hampir 19 hari dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro,” tutur Fitria.

Fitria kemudian meminta maaf karena telat menyampaikan kabar ini kepada publik. Fitria beralasan, tak ingin membuat fans Elvy panik.

“Mohon maaf kepada semuanya, keputusan kami, keluarga, untuk tidak menyampaikan berita sakitnya umi, adalah semata karena kami tidak ingin menambah kepanikan,” ujar Fitria.

“Terus terang, kami pada saat itu sekeluarga amat sangat kaget dan cukup panik,” imbuhnya. (PMJ)

Dhenoog Rachma Berjuang Lestarikan Seni Tradisional

BELUM ada permintaan pentas hingga minggu ini, tak membuat Dhenoog Rachma kecil hati. Ia menyadari keadaan memang sedang tak mendukung. Pandemi Covid-19 harus disikapi serius. Salah satunya tidak ada kumpulan manusia. Wajar bila pentas-pentas kesenian yang mengundang massa, belum dilakukan. Masih menunggu situasi aman.

“Job menari belum ada. Nunggu rampung corona. Padahal sudah rindu ingin tampil,” kata Rachma .

Agar tak bosan, gadis kelahiran 27 Oktober 1996 yang dikenal sebagai penari dan penyanyi ini membantu neneknya jualan di Pasar Bantul. “Lha nggak ada pekerjaan,” tandasnya.

Dilansir dari Minggu Pagi, meski masih muda usia, kecintaan Rachma terhadap seni tradisi sangat besar. Sejak kecil sudah menari. Bahkan tertarik menarikan tarian tradisi yang merakyat: jatilan. Orangtuanya sempat tidak membolehkan. Kesenian itu jarang dimainkan wanita, juga ‘main’ makhluk halus.

“Kalau pergi latihan tiap Selasa, pamitnya beli baju. Lama-kelamaan Ibu curiga dan tahu. Tapi habis itu akhirnya malah dibolehkan,” ucap pemilik nama asli Dian Nur Rahmawati itu.

Saking cintanya terhadap seni warisan leluhur itu, Rachma mendirikan komunitas Cah Jathilan Djogja, Januari 2019. Anggotanya saat ini 4.800, dari anak-anak, generasi muda, hingga orangtua. Berasal dari DIY, Blitar, Wonosobo, Banten, dan Kalimantan. Sebulan sekali ketemu darat.

Komunitas ini bertujuan menambah persaudaraan melalui kesenian. Membangun silaturahmi sesama pecinta jatilan, dan berpartispasi aktif melestarikan kesenian rakyat itu.
“Saya ingin melestarikan dan nguri-uri

kesenian jatilan, ingin erat memperat paseduluran

,” kata putri Suradi-Sri Mugiyati yang tinggal di Glagah Lor Tamanan Bantul itu.

Diakui Rachma, di seni tradisi, Rachma tak memburu materi. Bahkan ia kadang tombok jika mendapat ajakan pentas. “Dapat uangnya dari nyanyi saja. Kalau yang seni tradisi, tulus ingin berjuang,” paparnya seperti dikutip dari Minggu Pagi. (MPJ)

Kisah Sukses Hanifah Pengusaha Es Durian

KEPUTUSAN berwirausaha wanita asal Desa Jati, Jaten, Nur Hanifah (35) bukan secara instan. Wanita yang berkarir belasan tahun sebagai penyiar radio dan asisten notaris ini menakar keuntungan berwirausaha tak hanya dari aspek finansial. Namun juga panggilan hati seorang ibu yang bertanggung jawab penuh bagi keluarganya.

Berangkat dari hobinya menyantap durian, ia mencoba meramu daging si raja buah itu menjadi minuman berasa nikmat. Awalnya ia hanya membuka pesanan dari teman-teman yang terdaftar di buku telepon ponselnya. Sup buah durian dibikinnya bisa sampai 30 cup per hari. Kemudian diantarnya ke pemesan asal Karanganyar kota di sela kesibukannya mengantar jemput si buah hati.

Menurut Hanifah, dulu saya bertekad jika anak ketiga sudah lahir, saya mau full mengurus mereka. Tidak hanya diurus orang lain atau pengasuh. Namun setelah lama-kelamaan di rumah, terpanggil jiwa wirausaha. Awalnya menjadi reseller produk fashion. Tapi sekarang banyak saingannya.

“Kebetulan saya hobi makan durian. Saya juga paham betul pehobi durian pasti rela bayar ekstra asalkan keinginannya menyantap durian terpenuhi. Makanya, saya memberanikan diri membuat sup buah durian. Dijual ke teman-teman saja yang ada di Karanganyar kota,” kata Hanifah.

Sup buah yang dibikinnya istimewa. Ia tidak memakai sedikitpun penguat rasa maupun pengawet. Racikannya murni air dan daging durian. Pemberian es batu juga tergantung selera. Lantaran orderannya lumayan banyak, ia lalu membuka outlet Ais Duren. Tak hanya sup durian yang dijualnya di warung yang terletak di Jl Kapten Mulyadi Jungke Karanganyar ini.

Namun juga varian rasa seperti Ais Duren Nata De Coco, Ais Choco, Ais Choco Oreo, Asi Chinno Oreo serta Ais Duren Original dan Double Duren. Varian tersebut dikreasi sesuai selera kaum milenial. Ia memasang harga terjangkau dan cenderung murah bagi mereka yang tahu betul tentang durian. Ais durian per cup hanya Rp 11 ribu. Sedangkan double duren Rp 15 ribu. Untuk ukuran normal, isi cupnya tergolong penuh dengan bobot daging 80 gram.

“Ais Duren original dibuat dari daging durian asli tanpa pemanis dan bahan pengawet. Bagi pehobi durian, ini murah. Saya enggak apa-apain duriannya. Daging buah juga tidak diblender. Rasanya legit dan tersedia di sepanjang musim,” tutur Hanifah. (KR)

Dr Aqua Dwipayana Bagai “Gardu Energi”

Oleh : Drs.H. Muhammad Zen, MM

PENAMPILANNYA memang murah senyum dan sangat ramah. Itulah kesan yang terpancar saat bertemu Dr. Aqua Dwipayana, pakar komunikasi dan motivator internasional.

Sebelum merebaknya pandemi, Dr Aqua adalah pribadi yang sangat lincah dalam menjalin silaturahim ke berbagai kawasan. Dalam satu hari pria energik tersebut bisa berada di beberapa kota di tanah air. Kegiatannya yang paling banyak yakni  berkunjung ke sejumlah kolega, serta memberikan ceramah motivasi atau sharing komunikasi.

Namun sejak merebaknya pandemi corona, ayah dari Ara dan Ero ini sekarang lebih banyak “di rumah saja” yakni tinggal di kawasan Bogor Jawa Barat. Rumah di Bogor adalah rumah pertama, sedangkan rumah keduanya di kawasan Perumahan Dosen UGM di Yogyakarta.

“Iya sejak merebak pandemi virus corona saya banyak di rumah Bogor. Sudah sekitar satu setengah bulan saya nggak kemana-mana, ya hanya tinggal di rumah. Meski tinggal di rumah, saya setiap hari menyapa para kolega lewat medsos,” tutur Dr Aqua Dwipayana didampingi Retno, istrinya.

Setiap hari memang motivator kondang ini senantiasa menyapa semua teman-temannya, lewat grup WA komunikasi jari tangan. Di grup medsos tersebut Aqua Dwipayana yang  Doktor Komuniasi lulusan Unpad Bandung ini banyak menulis artikel populer, untuk meningkatkan optimisme di saat kita semua sedang mendapat “ujian hidup” berupa pandemi corona.

Banyak hal yang istimewa dari pribadi  Dr Aqua Dwipayana. Salah satunya yakni Aqua di berbagai komunitas sering berfungsi sebagai “Gardu Energi”.  Kok jadi “Gardu Energi”  ?  Iya betul, di saat orang lain mulai pesimis menatap kehidupan, Aqua Dwipayana selalu tampil membangkitkan semangat, membangkitkan optimisme atau menularkan energi positif  dalam menghadapi kehidupan.   

Karena sering berfungsi sebagai “Gardu Energi”, banyak orang  yang berinteraksi dengan Dr Aqua akhirnya ikut ketularan “energi positif”.  Penulis sendiri mengenal Aqua Dwipayana sejak beliau kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Saat masih kuliah, Aqua juga bekerja sebagai wartawan Suara Indonesia.

Sekian puluh tahun kemudian setelah Dr Aqua Dwipayana berkembang jadi pakar komunikasi dan motivator kondang, sering ketemu saya saat ada acara di Kota Dingin Malang. Bahkan beberapa kali saya menemani Dr Aqua bersilaturahim mulai siang hingga malam, menemui sejumlah  kolega yang kebanyakan orang-orang penting. Saat berinteraksi dengan Dr Aqua Dwipayana itulah, saya merasakan betul tiba-tiba energi positif saya meningkat drastis.

Berdasarkan pengamatan saya, meningkatnya energi positif juga dirasakan para mantan wartawan yang dulu menjadi sahabat Dr Aqua. Aqua Dwipayana pernah berkarir sebagai wartawan di sejumlah media besar antara lain Suara Indonesia, Jawa Pos, Surabaya Minggu serta Bisnis Indonesia.

Di tengah-tengah kesibukannya ke sejumlah daerah, Aqua seringkali menyempatkan diri silaturahim menemui sahabat-sahabatnya yang kini banyak yang sudah jadi “mantan wartawan”. Mereka juga kadang diajak berwisata ke Yogyakarta, dan semua biaya ditanggung Aqua.  Karena itulah di saat banyak orang mulai egois, hanya memikirkan diri sendiri dan keluarga, Dr. Aqua Dwipayana justru banyak menebar kebaikan bagi orang lain, dan benar-benar jadi “Gardu Energi” bagi sesama.   

***

NB: Penulis alumni UGM Yogyakarta, saat ini sedang menempuh Program Doktor Ilmu Manajemen di Pascasarjana Unmer Malang.

Rozita Perangi Kusta di Pedalaman

ORANGNYA ramah dan banyak senyum. Itulah Rozita Tenaga kesehatan PNS di Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Rozita selalu bertualang dalam mengemban misi mengajak masyarakat untuk hidup sehat. Lebih dari 25 tahun mengabdi dirinya tak pernah mengeluhkan soal jabatan.

Tak banyak yang tahu kisah staf Dinkes Riau ini. Ibu dari tiga orang anak ini, selalu menghabiskan waktunya dari pelosok desa terpencil hingga desa perbatasan dengan negara tetangga Malaysia.

Sosok wanita yang bersahaja dan ramah ini, pernah tercatat di tahun 2006 lalu memegang program penyakit kusta. Mengisi kekosongan program kesehatan untuk warga terkena penyakit kusta yang sempat kosong selama dua tahun. Kala itu Rozita dipercayakan untuk mengemban amanah itu.

Dirinya membuat program perencanaan penanganan penyakit kusta di mana Riau walau bukan endemis. Wanita ini diusulkan untuk mengikuti pelatihan Pengawas Supervisor (Wasor) untuk kusta di Pusat Pelatihan Kusta Nasional (PLKN) di Makassar. Sebulan lamanya mengikuti pelatihan bagaimana penanganan kesehatan untuk orang terkena kusta.

Dalam pelatihan penanganan kusta dirinya menjadi Wasor dua terbaik. Karenanya dia dipercayakan untuk selalu ikut dalam pelatihan-pelatihan kusta lainnya di tingkat nasional yang digelar Kemenkes.

Progam untuk penanganan kusta ini, memang selalu dihindari para tenaga kesehatan lainnya. Ini karena dimungkinkan karena ketidaktahuan soal penanganan kusta. Mungkin bagi sebagian orang, melihat penyakit kusta ini memang membuat bulu kuduk merinding. Ada yang kondisi kakinya puntung, penuh borok, tubuh yang terkena mati rasa.

Rozita hadir di sana, harus melawan mitos masyarakat pedesaan yang selalu menganggap penyakit kusta adalah kutukan, keturunan dan hal negatif lainnya. Tak mudah baginya meyakinkan masyarakat, bahwa penyakit tersebut juga ada obatnya.

Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) di kawasan pantai timur di Selat Malaka ini, salah satu tempat banyaknya warga terkana kusta. Sebagian masyarakat di sana menempati pulau-pulau terpencil. Rozita tak pernah mengenal menyerah. Dengan perjalanan darat dari Pekanbaru, dia tempuh menuju pulau terpecil itu harus menggunakan kapal kecil.

Kepiawainnya dalam penanganan pasien kusta, Kemenkes selalu menjadikannya pelatihan buat tenaga kesehatan lainnya secara nasional. Rozita pun diminta Kemenkes untuk memberikan palatihan penanganan pasien kusta ke dinas kesehatan lainnya seperti di Provinsi Sumatera Selatan dan Sumatera Utara.

Keberhasilannya dalam penanganan pasien kusta di Riau, tak diragukan lagi. Rozita telah mengangkat nama baik Provinsi Riau yang mampu dalam penanggulangan pasien kusta terbaik. Padahal Riau tidaklah termasuk probinsi endemis kusta. (DTK)